Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Museum Brawijaya Pamerkan Karya Pelukis Difabel  

Written By Unknown on Rabu, 06 Februari 2013 | 10.20

Penonton melihat karya-karya lukisan dan instalasi yang dipamerkan di pameran tunggal "Ambang" oleh Dyan Anggraini di Sangkring Art Space, Bantul, Yogyakarta. TEMPO/Suryo Wibowo

Selasa, 05 Februari 2013 | 17:20 WIB

TEMPO.CO, Malang - Seniman lukis asal Malang yang tergabung dalam Komunitas Malang Suko menggelar pameran di Museum Brawijaya. Sebanyak 150 karya lukis hasil karya 30 seniman dipamerkan untuk masyarakat umum hingga 9 Februari mendatang. Termasuk di dalamnya karya seniman difabel asal Malang, Sodikin. "Seniman difabel membuka dengan demo melukis," kata Ketua Komunitas Perupa Malang Suko, Sudibyo Adi Wahyono, Selasa, 5 Februari 2013.

Para seniman yang tergabung dalam Assosiation of Mouth and Foot Painting Artists ini menunjukkan kebolehan melukis dengan kaki dan mulut. Pelukis asal Singapura Benjamin Tan Boon Chauan, Sadikin, Sunaryo, dan Yus Yasman pun piawai melukis, meski dengan keterbatasan fisik. Mereka mengaku ingin memberikan motivasi kepada pelukis-pelukis di Malang agar terus menghasilkan karya.

Benyamin yang menorehkan kuas dengan mulut ini menyampaikan pesan agar peduli terhadap lingkungan. Lukisan berwarna dasar hijau ini menarik perhatian masyarakat. Lukisannya yang bertema pepohonan menarik perhatian pengunjung. Lukisan karya Benyamin pun dipamerkan di ruang pamer yang berada di Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.

Beragam aliran seni dipamerkan, mulai surealis hingga kaligrafi. Pameran ini sekaligus digunakan untuk menggagas dibukanya pasar seni di Malang. Rencananya, pasar seni dibuka di utara museum setiap pekan saat Malang Car Free Day. "Sampai saat ini, Malang belum punya pasar seni, padahal banyak seniman di Malang," kata Ketua Assosiation of Mouth and Foot Painting Artists Malang, Sadikin.

Para pengunjung tampak menikmati pameran yang diselenggarakan di ruangan museum Brawijaya Malang. Selain melihat barang bersejarah koleksi museum, pengunjung juga dimanjakan dengan aneka jenis lukisan yang menawan. "Menarik, perpaduan yang unik. Pameran lukisan di antara barang bersejarah," kata seorang pengunjung, Edi Solahudin.

EKO WIDIANTO


10.20 | 0 komentar | Read More

Cerpen Karya 10 Perempuan Diluncurkan di Yogya

Selasa, 05 Februari 2013 | 18:49 WIB

TEMPO.CO, Yogyakarta- Kumpulan cerpen berjudul "Hari-hari Salamander" terbitan Penerbit Buku Perempuan diluncurkan di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). "Aku, Ai, perempuan, sama seperti kalian. Tak ada beda". Demikian kalimat epilog dari cerpen berjudul "Namaku Ai", karya Lisa Febriyanti. Cerpen Lisa adalah satu dari 10 cerpen dari 10 cerpenis perempuan dan berkisah tentang perempuan.

Cerpen dikumpulkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Hari-hari Salamander" yang diterbitkan Penerbit Buku Perempuan pada 2012. Buku tersebut diluncurkan untuk kedua kali di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) di Sorowajan, Bantul, Selasa 5 Februari 2013. Sebelumnya, buku ini diluncurkan di Jakarta.

Lisa mengangkat kisah perempuan dengan HIV AIDS. Kalimat penutupnya itu untuk menegaskan, bahwa perempuan yang tertular virus HIV pun tetaplah sama seperti perempuan lain, manusia lain. "Mencengangkan, karena ibu rumah tangga menempati posisi tertinggi yang rentan tertular," kata Lisa, penulis "Iluminasi" sebelum diskusi di LkiS. Cerpen Lisa terbit pada 2009. Ia juga hobi fotografi.

Data pada 2012, sebanyak 30 persen ibu rumah tangga tertular HIV dari suaminya. Lisa menulis kisah tersebut karena pernah melakukan pendampingan orang dengan HIV AIDS pada 2007-2009 bersama Komisi Penanggulangan AIDS. Beberapa daerah dia kunjungi. Antara lain Jakarta, Bandung, dan Denpasar.

Tak hanya Lisa, aktivis perempuan bernama Gayatri juga menjadi penulis. Perempuan 48 tahun ini menulis cerpen berjudul "Blues Biru dalam Kenangan". "Kami tidak menulis dengan genit, dengan mendayu-dayu. Tapi soal pemberdayaan perempuan," kata Gayatri berapi-api.

Tulisan yang mendayu-dayu itu, menurut Lisa, misalnya adalah soal perempuan yang termehek-mehek karena ditinggal pacarnya. Atau, perempuan yang tak berdaya karena diceraikan suaminya. Lisa memilih tema bagaimana perempuan mempunyai kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalannya. "Ini kisah perempuan yang tak biasa," kata Gayatri. Ia sebelumnya bekerja di lembaga donor luar negeri.

Menurut penerbit, Olin Monteiro, proses pengumpulan para penulis tersebut berasal dari dari jaringan penulis perempuan. Mereka sudah terbiasa menulis, meski tak semuanya saling mengenal. Tujuh dari 10 perempuan yang menulis kumpulan cerpen tersebut adalah aktivis. Selain Lisa dan Gayatri, juga ada Valentina Sagala, Ni Putu Rastiti, dan Debra Yatim yang judul cerpennya menjadi judul buku, yakni "Hari-hari Salamander". "Kami percaya, cerita perempuan yang ditulis perempuan sendiri tidak akan pernah habis," kata Olin.

Sebelumnya, Penerbit Buku Perempuan juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen. Yakni yang berjudul Tujuh Perempuan Urban. Olin berharap, rangkaian cerita dalam buku itu juga menjadi penanda bahwa dinamika keseharian perempuan menjadi inspirasi bagi diri sendiri maupun orang lain. "Semoga semakin banyak prosa-prosa perempuan yang ditulis bersama," kata Olin.

PITO AGUSTIN RUDIANA


10.20 | 0 komentar | Read More

Trio Lestari, dari Nyanyi Hingga Stand Up Comedy

Written By Unknown on Selasa, 05 Februari 2013 | 10.20

Senin, 04 Februari 2013 | 16:20 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Tiga musikus kenamaan: Glenn Fredly, Tompi, dan Sandhy Sondoro, yang tergabung dalam Trio Lestari, tampil memukau penonton di Trans Convention Center, Jalan Gatot Subroto Bandung, Ahad malam, 3 Februari 2013. Tak hanya menyanyi, Trio Lestari juga menyuguhkan guyonan bahasa alay dan sindiran politik tentang Indonesia.

Dengan konsep semiteatrikal, konser dimulai dengan prolog narator bernama bernama Dewi Sri, yang berwujud visual kartun. Dewi Sri berkisah tentang kondisi suatu negeri yang tengah berada di ambang kehancuran. Kemudian muncul tiga orang kesatria yang diutus Dewi Sri untuk menyelamatkan negeri tersebut.

Trio Lestari, kesatria itu, muncul satu per satu ke atas panggung. Mereka mengenakan setelan kemeja putih, jas hitam, dasi kupu-kupu, dan kacamata hitam. Sebait lagu mereka masing-masing, disusul lagu Bento ciptaan Iwan Fals yang diaransemen menjadi lebih jazzy, jadi pembuka konser Trio Lestari Show.

Di tengah penampilan ciamik mereka, ada juga selingan komedi seperti tembak-tembakan di atas panggung. Baru lagu pertama, penonton sudah riuh dengan gelak tawanya.

"Selamat malam, Bandung. Trio Lestari kembali berjumpa dengan kalian," sapa Tompi pada penonton. Dengan cepat, Glenn Fredly menimpali bahwa mereka sebelumnya belum pernah ke Bandung karena gagal konser pada Desember 2012 lalu.

Setelah tampil bersama, Tompi tampil pertama menghibur penonton dengan melantunkan lagu Menghujam Jantungku, disambung Glenn Fredly dengan Sekali Ini Saja. Sandhy Sondoro menghipnotis kekaguman penonton dengan lagu Beauty Like Yours dipadu dengan permainan gitarnya.

Ketiga kesatria yang diutus Dewi Sri tersebut bukan hanya menghibur penggemarnya dengan menyanyi, tapi juga berdialog dengan 1.500 penonton.

Dalam dialognya, mereka mengatakan, negeri ini penuh sekali dengan orang tua yang hanya berebut harta serta anak muda yang sibuk memikirkan gaya. Isu politik yang dikemas dengan gaya stand up comedy tersebut malah membuat penonton semakin terbahak dan terpukau.

Sepanjang pertunjukan, ketiga penyanyi yang memiliki karakter suara berbeda ini tampak total menghibur penggemarnya. Ada sesi di mana mereka bertiga menyanyikan lagu Cherry Belle berjudul Beautiful dan menari dengan genit ala girl band. Uniknya, setiap orang bernyanyi sesuai dengan jenis suaranya masing-masing. Penonton kian riuh bertepuk tangan.

Ketika mendapat giliran menyanyi solo, Tompi mengeluarkan lengkingan suara khasnya dengan menyanyikan lagu berjudul Tak Pernah Setengah Hati. Glenn Fredly tak mau kalah, lelaki kelahiran Ambon tersebut membuat penonton perempuan menjerit-jerit dengan karismanya saat menyanyikan Akhir Cerita Cinta. Sedangkan Sandhy Sondoro menyanyikan lagu Anak Jalanan ciptaan idolanya, Chrisye, yang telah diaransemen ulang.

Energi penonton yang tak kenal lelah bernyanyi bersama tampaknya kian menyemangati ketiga penyanyi tersebut. Setelah berganti setelan jas warna merah, kuning, dan biru, mereka ganti menyanyikan lagu rekannya masing-masing. Tompi ditemani iringan terompet dan saksofon menyanyikan lagu Glenn berjudul Cukup Sudah, Glenn Fredly menjajal suaranya dengan lagu Tak Pernah Padam, dan Sandhy Sondoro fasih melantunkan Bukan Pacarmu.

Aksi ketiga penyanyi tersebut kian menghebohkan penonton ketika mereka kompak menyanyi lagu Nurlela dan menari ala Gangnam Style. Sekitar lebih dari 20 lagu dilantunkan tiga penyanyi kawakan Indonesia itu untuk menghibur penggemarnya. Sepanjang konser, seluruh penonton ikut bernyanyi, menari, dan bertepuk tangan.

Zanjabilla Kamila, penonton asal Bandung, mengaku konser Trio Lestari Show berbobot dan punya nilai dengan sindiran isu-isu di Indonesia. "Kalau musikalitas mereka dalam bermusik itu tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti keren, ditambah dengan aksi komedi mereka. Lucu sekali," kata dia. Tahun lalu, trio ini sudah sempat berkeliling Indonesia.

RISANTI

Berita Terpopuler Lainnya:
Inul Daratista, Nembang Asmaradhana
Pameran Kertas Djadoel Melawan Lupa di Semarang
Valentine, Ada Film Rectoverso
Fast & Furious 6 Libatkan Aktor Indonesia
Ratu Hemas Koleksi Lukisan Karya Pelukis Difabel


10.20 | 0 komentar | Read More

Situs Radio Penggemar Rhoma Direbut dari Peretas

Selasa, 05 Februari 2013 | 05:02 WIB

TEMPO.CO , Surabaya:Lama radio milik fans biduan dangdut Rhoma Irama, www.suarasoneta.com, berhasil direbut dari penjahat siber setelah diretas selama lebih dari 24 jam. Tampilan halaman muka radio streaming yang semula menghitam bergambar sesosok pria berkerudung, kini hilang.

Radio yang memutar khusus lagu-lagu Rhoma Irama itu, diganggu peretas sejak Jumat malam pekan lalu. Serangan peretas memakai nama samaran Eagle Eye itu mengakibatkan selama hampir dua hari lagu-lagu Rhoma tak bisa diakses melalui komputer PC.

"Tim teknologi informasi kami sudah merebut (situs) dari tangan peretas. Radio sudah normal kembali," kata Ketua Soneta Fans Club Indonesia Jawa Timur Surya Aka Syahnagra, Senin, 4 Februari 2013.

Suarasoneta mengudara sejak setahun lalu. Studionya berada di Banyuwangi dan dikelola oleh Ketua Soneta Fans Club Indonesia, Handri Irawan. Menurut Handri, serangan peretas ke radionya ini merupakan keli kedua.

Serangan pertama pada Desember 2012. Saat itu laman suarasoneta.com dipasangi foto Rhoma sedang berceramah lalu disilang merah. Peretas menulis pesan: Mau nyapres? Mati aji loe, Rhoma.

KUKUH  S. WIBOWO

Baca juga
Meninggal Setelah Membintangi Iklan TCM
Raffi Ditangkap, BNN Diserang Lewat BlackBerry
Maharani Suciyono Terancam Dapat Sanksi Kampus


10.20 | 0 komentar | Read More

Pameran Kertas Djadoel Melawan Lupa di Semarang  

Written By Unknown on Senin, 04 Februari 2013 | 10.20

Minggu, 03 Februari 2013 | 18:54 WIB

TEMPO.CO, Semarang - Sketsa bangunan kuno seukuran kartu pos, tak jelas betul menggambarkan bangunan apa. Hanya tampak, bangunan berarsitektur Eropa, dengan dua bendera Belanda menghiasi pintu gerbang.

Satu-satunya petunjuk adalah, tulisan kecil di tepi bawah "Hoofdingan Koloniale Tentoonstelling Semarang 1914". Sketsa itu, sebagai saksi sejarah, bahwa pada 1914, pemerintah Belanda menghelat pameran dagang di Semarang, melibatkan peserta beberapa Negara Eropa. "Itu, pameran dagang internasional pertama di Semarang, bahkan mungkin Indonesia," kata Harry Suryo, Koordinator Oude Stad art and Culture Semarang, Ahad 3 Februari 2013.

Pada perkembangannya, bangunan di ujung Jalan Kiai Saleh Semarang itu, menjadi kediaman konglomerat gula Oei Tiong Ham, lalu menjadi Balai Prajurit dan kini sebagai lembaga pendidikan. Menurut Harry, peristiwa itu sebagai tonggak lahirnya sejumlah konglomerat asal Indonesia, seperti Oei Tiong Ham yang berjuluk Raja Gula Asia.

Pameran "Pamer Kertas Djadoel" itu, digelar 2-3 Februari 2013, di Galeri Siwil Art, kawasan Kota Lama Semarang. Sekitar 1.500 aneka gambar dan tulisan pada kertas kuno dan barang antik lain, dipamerkan. Juga, aneka foto bangunan kuno, kalender, kertas iklan, etiket berbagai produk.

Di antara ratusan kertas kuno yang dipamerkan, ada dua slebaran yang diterbitkan Pemerintah Jepang, dengan gambar pemuda dan tentara Jepang, dan dilengkapi tulisan mencolok: "Roentoehkan Sekoetoe. Hai Pemoeda! Berdjoeanglah Bagi Noesa dan Bangsa!

Pada lembar propaganda yang satu, berisi gambar ilustrasi menyerupai gurita dengan tulisan: "Toeroet Inggris dan Amerika, Toeroet Iblis Masuk Neraka". Slebaran itu, untuk mengobarkan semangat pemuda Indonesia melawan Sekutu, pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki.

Menurut Harry, pameran itu untuk mengajak masyarakat agar tak melupakan sejarah kotanya. "Dengan melihat benda kuno, kita akan mendapatkan gambaran utuh Semarang kuno dan Semarang kini," ujarnya.

Tjahjono Rahardjo, pengunjung pameran itu, mengaku terhibur setelah melihat koleksi komik wayang yang dibacanya pada 1960-an, saat dia duduk di Sekolah Dasar. "Bagi yang tua, rasa klangenan terpenuhi, bagi yang muda, sangat pas untuk belajar sejarah," ujarnya.

SOHIRIN


10.20 | 0 komentar | Read More

Valentine, Ada Film Rectoverso  

Senin, 04 Februari 2013 | 08:38 WIB

TEMPO.CO, Makassar - Film adaptasi dari buku Dewi Lestari, Rectoverso, akan meramaikan hari Valentine pada 14 Februari 2013 mendatang.

Film yang dibuat selama satu tahun setengah ini masing-masing mengangkat tema berbeda, di antaranya tentang cinta seorang penderita autis, dan seorang gadis yang memiliki firasat jika akan terjadi hal yang buruk. Ada lima aktris yang menjadi sutradaranya: Marcela Zalianty, Happy Salma, Rachel Maryam, Olga Lidya, dan Cathy Sharon. Mereka menyuguhkan satu suguhan ketika lima film pendek dijadikan satu.

"Lima cerita ini berbeda namun kami menjahitnya menjadi satu dan menyatukannya. Ada benang merah yang ditarik dari masing-masing film," kata Marcela Zalianty, Ahad, 3 Februari 2013.

Dalam pembuatan film ini, seluruh pemain mengikuti berbagai proses, mulai mengikuti casting, reading, sampai proses pengambilan gambar. Bahkan, setiap pemain mengobservasi langsung tokoh yang diperankan. "Seperti Lukman Sardi yang langsung turun observasi ke Bandung, di sana ada satu keluarga yang memang memiliki anak autis," katanya

Rachel Maryam meminta penonton untuk tidak berharap film ini berakhir dengan happy ending. "Ini tentang cerita yang tak pernah terungkap. Film ini dimulai bersama dan akhirnya juga sama," ujarnya.

Film ini bertabur bintang seperti Fauzi Baadilah, Lukman Sardi, Prisa Nasution, Asmirandah, Yama Carlos, dan Sophia Latjuba. Dalam salah satu ceritanya, Yama Carlos berperan sebagai pelukis yang jatuh cinta kepada Sophia Latjuba. (Baca: Cium Sophia Latjuba, Yama Carlos Izin Istri)

IIN NURFAHRAENI DEWI PUTRI

Berita Lainnya:
Cium Sophia Latjuba, Yama Carlos Izin Istri
Ketemu Sophia Latjuba, Yama Carlos Grogi
Pesta Narkoba Artis, Apa Komentar Sm*sh?
Eza Gionino Ditahan Polisi


10.20 | 0 komentar | Read More

Cara Marcella Ungkapkan Cinta yang Tak Terucap

Written By Unknown on Minggu, 03 Februari 2013 | 10.20

Sabtu, 02 Februari 2013 | 06:11 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Marcella Zalianty bersama Rachel Maryam, Olga Lidya, Happy Salma dan Cathy Sharon menggarap sebuah film omnimbus berjudul Rectoverso.

Rectoverso diadaptasi dari sebuah buku kumpulan cerpen karya Dewi Lestari dengan judul yang sama. Dari sebelas cerita yang terdapat di dalam buku Rectoverso, terpilih lima cerita yang difilmkan.

"Saya sengaja ajak teman-teman pecinta Rectoverso. Di sini kita buat film omnimbus yang berbeda, kalau film omnimbus satu-satu selesai kalau kita menggabungkan ceritanya jadi satu kesatuan walau berdiri sendiri," ujar Marcella di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Jumat 1 Febuari 2013.

Cerita yang terpilih dalam film ini antara lain Malaikat Juga Tahu disutradari Marcella Zalianty, Hanya Isyarat disutradarai Happy Salma, Curhat Buat Sahabat disutradarai Olga Lidya, Cicak di Dinding disutradarai Cathy Sharon,Firasat disutradarai Rachel Maryam.

Lima cerita ini dipilih karena memiliki satu tema, Cinta yang Tak Terucap. Kesemua cerita menggambarkan perasaan cinta yang tak diucapkan tapi bisa dirasakan.

Pemain yang ikut dalam film ini antara lain Acha Septriasa, Indra Birowo, Sophia Latjuba, Asmirandah, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Yama Carlos dan beberapa artis pendukung lainnya. Film ini akan tayang mulai 14 Febuari 2013 mendatang.

NANDA HADIYANTI

Berita terpopuler lainnya:
Kata Tifatul Sembiring soal Ahmad Fathanah
Narkoba Artis: Semua Tamu Ditawari Inex
Ini yang Menyebarkan Hubungan Ariel dan Pramugari
Ditanyai Soal Wanita, Senyum Luthfi 'Hilang' 
Menteri Suswono Bisa Terseret Kasus Daging Impor?
Narkoba Artis: Undangan Pesta Lewat BBM


10.20 | 0 komentar | Read More

Indra Birowo Kangen Perankan Tokoh Serius

Komedian Indra Birowo saat ditemui pada launching program tayangan baru Trans TV di Rolling Stone cafe, Jakarta, Kamis (20/10). Tempo/Agung Pambudhy

Sabtu, 02 Februari 2013 | 06:22 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Akting Indra Birowo yang lucu memang sudah tidak diragukan lagi. Setelah empat tahun hanya berkutat di dunia komedi, Indra kembali jajal bermain di film situasi drama.

Berperan sebagai Reggie di film omnimbus Rectoverso membuat Indra rindu suasana serius. "Kalau biasanya apapun juga bisa jadi bercandaan, kalau ini kan duduk aja bawaannya serius," ujar Indra ditemui di Lippomall Kemang, Jakarta, Jumat 1 Febuari 2013.

Meski harus berakting serius, dalam cerita yang diperankan Indra terselip candaan-candaan yang tak lepas dari sosoknya yang jenaka. "Kalau untuk bercandaan itu sudah ada di skrip, kalau mau improve saya bisa bikin lebih lagi," ujarnya.

Indra besyukur bisa bergabung dalam penggarapan film omnimbus Rectoverso ini. "Semua sudah teratur, tim sampai blocking juga sudah teratur, shooting jadi enak," tambah pemain di film Arisan ini.

Pria 40 tahun ini bermain dalam salah satu cerita di Film Rectoverso, berjudul Curhat Buat Sahabat. Indra berperan sebagai Reggie, pria yang mencintai sahabatnya Amanda secara diam-diam, diperankan oleh Acha Septriasa.

NANDA HADIYANTI

Berita terpopuler lainnya:
Kata Tifatul Sembiring soal Ahmad Fathanah
Narkoba Artis: Semua Tamu Ditawari Inex
Ini yang Menyebarkan Hubungan Ariel dan Pramugari
Ditanyai Soal Wanita, Senyum Luthfi 'Hilang' 
Raffi Ahmad Ditetapkan Jadi Tersangka
BNN: Raffi Sudah Lama Pakai Narkoba


10.20 | 0 komentar | Read More

Cara Marcella Ungkapkan Cinta yang Tak Terucap

Written By Unknown on Sabtu, 02 Februari 2013 | 10.20

Sabtu, 02 Februari 2013 | 06:11 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Marcella Zalianty bersama Rachel Maryam, Olga Lidya, Happy Salma dan Cathy Sharon menggarap sebuah film omnimbus berjudul Rectoverso.

Rectoverso diadaptasi dari sebuah buku kumpulan cerpen karya Dewi Lestari dengan judul yang sama. Dari sebelas cerita yang terdapat di dalam buku Rectoverso, terpilih lima cerita yang difilmkan.

"Saya sengaja ajak teman-teman pecinta Rectoverso. Di sini kita buat film omnimbus yang berbeda, kalau film omnimbus satu-satu selesai kalau kita menggabungkan ceritanya jadi satu kesatuan walau berdiri sendiri," ujar Marcella di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Jumat 1 Febuari 2013.

Cerita yang terpilih dalam film ini antara lain Malaikat Juga Tahu disutradari Marcella Zalianty, Hanya Isyarat disutradarai Happy Salma, Curhat Buat Sahabat disutradarai Olga Lidya, Cicak di Dinding disutradarai Cathy Sharon,Firasat disutradarai Rachel Maryam.

Lima cerita ini dipilih karena memiliki satu tema, Cinta yang Tak Terucap. Kesemua cerita menggambarkan perasaan cinta yang tak diucapkan tapi bisa dirasakan.

Pemain yang ikut dalam film ini antara lain Acha Septriasa, Indra Birowo, Sophia Latjuba, Asmirandah, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Yama Carlos dan beberapa artis pendukung lainnya. Film ini akan tayang mulai 14 Febuari 2013 mendatang.

NANDA HADIYANTI

Berita terpopuler lainnya:
Kata Tifatul Sembiring soal Ahmad Fathanah
Narkoba Artis: Semua Tamu Ditawari Inex
Ini yang Menyebarkan Hubungan Ariel dan Pramugari
Ditanyai Soal Wanita, Senyum Luthfi 'Hilang' 
Menteri Suswono Bisa Terseret Kasus Daging Impor?
Narkoba Artis: Undangan Pesta Lewat BBM


10.20 | 0 komentar | Read More

Indra Birowo Kangen Perankan Tokoh Serius

Komedian Indra Birowo saat ditemui pada launching program tayangan baru Trans TV di Rolling Stone cafe, Jakarta, Kamis (20/10). Tempo/Agung Pambudhy

Sabtu, 02 Februari 2013 | 06:22 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Akting Indra Birowo yang lucu memang sudah tidak diragukan lagi. Setelah empat tahun hanya berkutat di dunia komedi, Indra kembali jajal bermain di film situasi drama.

Berperan sebagai Reggie di film omnimbus Rectoverso membuat Indra rindu suasana serius. "Kalau biasanya apapun juga bisa jadi bercandaan, kalau ini kan duduk aja bawaannya serius," ujar Indra ditemui di Lippomall Kemang, Jakarta, Jumat 1 Febuari 2013.

Meski harus berakting serius, dalam cerita yang diperankan Indra terselip candaan-candaan yang tak lepas dari sosoknya yang jenaka. "Kalau untuk bercandaan itu sudah ada di skrip, kalau mau improve saya bisa bikin lebih lagi," ujarnya.

Indra besyukur bisa bergabung dalam penggarapan film omnimbus Rectoverso ini. "Semua sudah teratur, tim sampai blocking juga sudah teratur, shooting jadi enak," tambah pemain di film Arisan ini.

Pria 40 tahun ini bermain dalam salah satu cerita di Film Rectoverso, berjudul Curhat Buat Sahabat. Indra berperan sebagai Reggie, pria yang mencintai sahabatnya Amanda secara diam-diam, diperankan oleh Acha Septriasa.

NANDA HADIYANTI

Berita terpopuler lainnya:
Kata Tifatul Sembiring soal Ahmad Fathanah
Narkoba Artis: Semua Tamu Ditawari Inex
Ini yang Menyebarkan Hubungan Ariel dan Pramugari
Ditanyai Soal Wanita, Senyum Luthfi 'Hilang' 
Raffi Ahmad Ditetapkan Jadi Tersangka
BNN: Raffi Sudah Lama Pakai Narkoba


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger