Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Lelah, Shah Rukh Khan Ketiduran Sebelum Konpres  

Written By Unknown on Sabtu, 08 Desember 2012 | 10.20

Sabtu, 08 Desember 2012 | 09:51 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Ada yang meresahkan para pewarta dalam konferensi pers bintang Bollywood, Shah Rukh Khan, di Hotel Shangrilla, Jakarta, kemarin, Jumat, 7 Desember 2012. Hampir dua jam para awak media, mulai dari cetak, televisi, hingga daring, tak melihat batang hidung pemeran utama film My Name Is Khan itu. Konferensi pers yang dijadwalkan dari pukul 13.00 WIB akhirnya molor.

Sekitar pukul 16.00 WIB, pria berusia 47 tahun itu akhirnya muncul mengenakan tuksedo hitam dan kemeja putih. Ia hadir di dampingi Bipasha Basu, Rani Mukherjee, dan Preity Zinta. "Maafkan saya, karena lelah, saya ketiduran tadi," ujar Shah Rukh Khan sembari membungkukkan badannya dan mengatupkan dua tangannya.

Ia mengaku sangat lelah dalam perjalanannya ke Indonesia, sehingga tak kuasa untuk menahan kantuk. Melalui akun Twitter di @iamsrk, suami dari Gauri ini menulis sudah tiba di Jakarta dari sekitar pukul 07.00.

Shah Rukh Khan menuturkan, jadwalnya di Indonesia sangat padat. "Setelah konser pun, kami harus langsung pulang," ujar dia. Sehingga, ia terpaksa melewatkan untuk menikmati keindahan Indonesia.

Tapi, meski tak bisa melihat langsung pesona alam Indonesia, Shah Rukh Khan bisa melihat kecantikan Indonesia dari orang-orangnya. "Mereka mewakili apa yang ada di negara ini," kata Shah Rukh Khan memuji.

Shah Rukh Khan sudah dua kali ke Indonesia untuk konser. Pada 2002 silam dan ia mengulanginya di 2012. Selama kunjungannnya ke Tanah Air, memang dia jarang menyempatkan berlibur. "Tapi kata teman-teman saya yang liburan ke Bali, Indonesia sangat indah. Saya ingin, mungkin suatu saat nanti," kata dia.

DIANING SARI

Berita Terkait:
Ke Indonesia, Shah Rukh Khan Tanpa Kajol
Shah Rukh Khan Bawa Pasukan 100 Orang 
Tiket Shah Rukh Khan Paling Mahal Rp 12 Juta
3 Artis Cantik Bollywood Ini Temani Shah Rukh Khan
Ke Indonesia, Shah Rukh Khan Sewa Pesawat Pribadi 
Shah Rukh Khan Ujung Tombak Bollywood


10.20 | 0 komentar | Read More

Alasan Kajol Tak Ikut Konser Shah Rukh Khan

Sabtu, 08 Desember 2012 | 10:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Kajol adalah pasangan main Shah Rukh Khan yang paling fenomenal. Duet mereka di film Kuch-Kuch Hota Hai telah membuat penonton Indonesia jatuh cinta kepada pasangan bintang film ini. Tapi untuk konsernya di Indonesia, Shah Rukh Khan tak mengajak perempuan berusia 38 tahun itu.

"Kajol sekarang sangat sibuk, selain main film dia juga harus mengurus anak," ujar Shah Rukh Khan dalam konferensi pers di Hotel Santika, Jumat, 7 Desember 2012.

Dari pernikahannya dengan bintang film Ajay Devgan pada 1999, Kajol memiliki dua buah hati. Menurut Shah Rukh Khan, dia sebenarnya ingin mengajak pasangan duetnya itu. Tapi kesibukanlah yang terpaksa memisahkan mereka.

Meski tanpa Kajol, Shah Rukh Khan menyatakan konser bertema "Temptation Reloaded" di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, hari ini, tetap akan meriah. Sebab, ada tiga bintang film India yang tak kalah menawan. Mereka adalah Bipasha Basu, Rani Mukherjee, dan Preity Zinta. "Mereka adalah bintang kesayangan Bollywood," ujar dia.

Rani Mukherjee dan Preity Zinta adalah pasangan yang pernah diajak Shah Rukh Khan ke Indonesia pada 2004. Adapun Bipasha Basu baru pertama kali ini digaet bintang yang dijuluki "King Khan" ini ke Indonesia. Dalam persembahan tari dan lagu di Sentul nanti, Preity mengatakan ia akan mendendangkan tujuh lagu.

Bipasha Basu, Rani Mukherjee, dan Preity Zinta adalah tiga bintang yang juga acap berduet dengan Shah Rukh Khan. Rani berduet dengan Shah Rukh Khan dalam Kuch Kuch Hota Hai. Adapun Preity beradu akting dalam Kabhi Albida Nakhena (2006), dan terakhir Bipasha dalam Rab Ne Bana di Jodi (2008)

DIANING SARI

Berita Terkini:
Lelah, Shah Rukh Khan Ketiduran Sebelum Konpres
Ke Indonesia, Shah Rukh Khan Tanpa Kajol
Shah Rukh Khan Bawa Pasukan 100 Orang 
Tiket Shah Rukh Khan Paling Mahal Rp 12 Juta
3 Artis Cantik Bollywood Ini Temani Shah Rukh Khan
Ke Indonesia, Shah Rukh Khan Sewa Pesawat Pribadi 
Bagaimana Bollywood Mempengaruhi Dunia
Bollywood Merambah Dunia
Film Pertama India Film Bisu 
Cinema India dari Masa ke Masa


10.20 | 0 komentar | Read More

Michael Buble dan Reese Witherspoon Berduet

Written By Unknown on Jumat, 07 Desember 2012 | 10.20

Jum''at, 07 Desember 2012 | 00:02 WIB

TEMPO.CO, Jakarta-Reese Witherspoon pernah menyanyi 7 tahun silam. Itupun dalam perannya sebagai June Carter dalam film Walk The Line. Namun Sepertinya, keinginan penggemar untuk melihat Reese sebagai penyanyi panggung  segera terwujud.

Penyanyi Michael Buble membocorkan rahasia kalau Reese akan kembali ke musik. Dan, Reese akan berduet bersama Buble dalam album terbarunya. "Aku bisa bilang itu semua benar," ujar Buble dalam satu acara di televisi Inggris, Kamis, 5 Desember 2012. "Aku hanya bilang aku penggemar beratnya, begitu juga dengan seluruh timku, kami ingin melakukan ini dengannya dan kami senang kalau dia juga bersemangat tentang ini."

Reese berperan sebagai June Carter, istri dari Johnny Cash. Atas perannya ini, Reese mendapatkan Oscar untuk kategori aktris terbaik. Untuk bisa tampil bernyanyi dalam film itu, Reese mengaku mengambil kursus. Ia mengatakan pengalaman itu menantang dan sekaligus menakutkan.

ETONLINE | DEWI RETNO

Berita Terpopuler
Breaking Dawn Part 2: Sajian Penutup yang Manis
Shah Rukh Khan Perlu Serba Jumbo
Yogyakarta Gelar Festival Seni Anak  
Rihanna Samai Rekor Madonna di Posisi Lagu #1  
Slamet Gundono Luncurkan Julung Sungsang

 


10.20 | 0 komentar | Read More

Jakcloth 2012 Targetkan 100 Ribu Pengunjung

Jum''at, 07 Desember 2012 | 04:44 WIB

TEMPO.CO , Jakarta:- Pagelaran Jakarta Clothing (Jakcloth) Festival 2012 yang diselenggarakan pada  6 - 9 Desember diklaim bakal dikunjungi 100.000 orang.

"Target empat hari 100 ribu pengunjung. Untuk hari ini diperkirakan 10 ribu pengunjung hadir," ujar Field Manager PT Sebelas April Liam Mipro,  Iyus Ilham di Jakarta, Kamis 6 Desember 2012.

Iyus mengatakan ini  Jakcloth ketujuh di tahun keempat ini akan menampilkan berbagai hasil karya dan unjuk kebolehan anak bangsa mulai dari fesyen  hingga band.

"Kegiatan ini jelas spirit awal membangun kreatifitas anak bangsa karena mereka menampilkan kaos, merchandise yang kualitasnya sepadan dengan merk luar," ujar Iyus sembari menyebutkan acara ini menargetkan anak muda.

Jakcloth terdiri dari 350 stand both yang menjual berbagai produk mulai kaos, celana, topi, tas, sampai makanan dan minuman. Selain itu ada tujuh  panggung beserta 1 panggung akustik.

Di antara  band yang akan menghibur penonton adalah Vierra,  Club 80''s, Om Bagus, dan  The Sigit

WDA | ANT


10.20 | 0 komentar | Read More

Noah Dilarang Konser di Palu  

Written By Unknown on Kamis, 06 Desember 2012 | 10.20

Kamis, 06 Desember 2012 | 08:21 WIB

TEMPO.CO, Palu - Konser grup band Noah yang sedianya digelar Rabu, 5 Desember 2012, di Stadion Gawalise P, Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, batal. Akibatnya, penggemar grup band yang divokali Ariel itu kecewa.

"Kami sudah jauh-jauh datang, ternyata batal," kata Dian, 25 tahun, salah seorang penggemar Noah, yang datang bersama kawan-kawannya saat ditemui di Stadion Gawalise Palu, Rabu, 5 Desember 2012.

Wanita asal Kabupaten Buol--yang berjarak 450 kilometer dari Kota Palu--itu mengaku datang ke Palu hanya untuk menyaksikan penampilan salah satu grup band papan atas Indonesia tersebut. Namun, harapannya untuk menyaksikan aksi Ariel dan rekan-rekannya itu gagal.

"Yah, mungkin penyelenggara memiliki pertimbangan lain. Cuma kalau mau dibatalkan, jangan mendadak seperti ini, kasihan kami sudah datang dari jauh," ujar Dian pasrah. Ketika sampai di lokasi konser, Dian dan teman-temannya mengenakan atribut penggila Noah.

Dian hanya salah satu dari sejumlah penggemar Noah yang kecewa. Sejumlah penggila Noah dari Kabupaten Poso, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong, yang telah tiba di Kota Palu untuk menyaksikan konser Noah, juga terpaksa gigit jari.

Di tempat terpisah, sejumlah warga Kelurahan Duyu mendatangi Mapolda Sulawesi Tengah dan lokasi tempat menginapnya personel Noah. Mereka meminta agar Noah tetap melaksanakan konser. Jika konser Noah dibatalkan, warga menuntut ganti rugi karena sudah mengeluarkan uang untuk membuat lahan parkir yang layak, menjual minuman, dan lain-lain.

Menanggapi tuntutan itu, Kepala Polres Palu, AKBP Ahmad Ramadhan, mengatakan, konser Noah terpaksa ditunda dengan alasan keamanan. "Saat ini situasi di Kota Palu masih rawan terjadi konflik," kata Ahmad.

DARLIS

Berita terpopuler lainnya:
Bupati Aceng Juga Dibelit Dugaan Korupsi
Polri Kembali Tarik 13 Penyidiknya dari KPK
50 Hari Blusukan Jokowi-Ahok
Bupati Aceng: Jangan Paksa Saya Mundur
Batu Kelamin Lelaki Ditemukan di Raja Ampat


10.20 | 0 komentar | Read More

Film Perubahan Iklim Borong Penghargaan JAFF 2012  

Kamis, 06 Desember 2012 | 09:47 WIB

TEMPO.CO, Yogyakarta - Film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut karya sutradara Shalahuddin Siregar memborong tiga penghargaan dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) bertema "Redreaming Asia", yang digelar 1-5 Desember 2012 di Yogyakarta.

Film yang mengisahkan perubahan iklim ini meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni Netpac Awards, Geber Awards, dan Special Mention Award dalam JAFF 2012. Film ini menyisihkan puluhan film yang diputar dalam JAFF. Netpac Awards diberikan kepada sutradara Asia yang dianggap memberikan kontribusi penting bagi gerakan sinema baru Asia. Adapun Geber Awards diberikan kepada film Asia yang dipilih oleh komunitas dari berbagai kota di Indonesia.

Film berdurasi 105 menit ini mengambil latar di sebuah desa di lereng Gunung Merbabu. Film dokumenter ini bercerita tentang komunitas yang tenang menghadapi perubahan iklim. Komunitas petani di Merbabu digambarkan mengandalkan kalender tradisional Jawa untuk membaca musim.

Direktur Festifal JAFF, Ajish Dibyo, mengatakan, film Negeri di Bawah Kabut memiliki sudut pandang baru karena mengangkat kearifan lokal. "Ketika menonton film itu, kita seperti dekat dengan masyarakat yang digambarkan," kata dia dalam jumpa pers JAFF di Cafe Indraloka, Yogyakarta, Rabu, 5 Desember 2012.

Juri JAFF, Paul Agusta, mengatakan, semua juri menilai film Negeri di Bawah Kabut layak mendapatkan penghargaan karena film ini menggunakan sudut pandang dan pendekatan yang relatif baru. Film dibuat secara alami atau tanpa manipulasi gambar. "Sutradara film mampu merakit cerita tanpa manipulasi. Penonton seperti dekat dan berinteraksi langsung dengan komunitas dalam film," katanya.

Selain Negeri di Bawah Kabut, sejumlah film juga meraih beberapa penghargaan. Film berjudul Bunohan, garapan sutradara Dain Iskandar Said, merupakan film action gaya Melayu. Penghargaan ini diberikan kepada film Asia terbaik pertama melalui penjurian dalam program Asian Feature.

Adapun Postcards From The Zoo karya Edwin, yang menceritakan seseorang yang ditinggalkan sendirian di sebuah kebun binatang, meraih Golden Hanoman Awards. Film The Three Sisters menjadi film pendek terbaik peraih Blencong Award. Film Cartas de la Soledad meraih Netpac Award dan Blames and Flames meraih Special Mention Award.

JAFF tahun ini memilih tema "Redreaming Asia" untuk menggambarkan realitas sosial kultural yang ada di negara-negara Asia. "Masyarakat di negara-negara Asia banyak memiliki kearifan lokal yang beragam," katanya.

Presiden Festival JAFF, Garin Nugroho, mengatakan, JAFF menggambarkan peta baru sinema Asia. Tema-tema itu menyangkut perkembangan seni, teknologi, dan kondisi sosial politik yang baru. Negara-negara Asia juga mengalami pertumbuhan dan teknologi baru. JAFF juga menjadi simbol perlawanan lewat teknologi. "Contohnya adalah pembuatan film di Filipina. Syuting hanya berlangsung 10 hari dan menghasilkan karya yang bagus," kata dia.

JAFF dihelat pada 1-5 Desember 2012. Puluhan film JAFF tahun ini diputar di Taman Budaya Yogyakarta, Singosaren, Banguntapan, Krapyak, Wedomartani, dan Empire XXI. Sejumlah penghargaan itu diberikan malam ini di TBY.

SHINTA M

Berita terpopuler lainnya:
Bupati Aceng: Jangan Paksa Saya Mundur
Rumor Nikah 2 Bulan Aceng-Shinta Jadi Omongan
Mabes Polri Akui Tarik Novel Baswedan
Solusi Dicky Chandra untuk Aceng
Tujuh Kasus Korupsi Pembelit Bupati Aceng


10.20 | 0 komentar | Read More

Maryam Supraba Calon Aktris Terbaik Film Indie

Written By Unknown on Rabu, 05 Desember 2012 | 10.20

Selasa, 04 Desember 2012 | 08:57 WIB

TEMPO.CO, Jakarta -Maryam Supraba, putri mendiang dramawan WS Rendra, masuk daftar nomine aktris terbaik pada Fiesta Film Independen Bandung 2012 melalui filmnya produksi Storylab berjudul Rasa Rindu. Penganugerahan sineas dan film Indie terbaik itu akan diberikan Selasa, 4 Desember 2012, malam di gedung New Majestic, Jalan Braga Bandung.

Di daftar calon aktor film indie terbaik, terdapat nama Edwyn Perkasa dari film berjudul Doku, Nur Amin Syaputra (film Penghulu), dan Dimas (film Bandos Ladam). Adapun di jajaran aktris film Indie terbaik, ada Maryam Supraba (Rasa Rindu), Irene Theresia (Santi), serta D. Catra R (Penghulu).

Ide cerita terbaik menempatkan Nuraziz Widayanto (film Demi Malam), Nuraziz Widayanto (2500 Puisi) dan Aisyah Amirah (Penghulu). Adapun kandidat sutradara terbaik menempatkan Jaka Wiradinata (Solitary), Nur Aziz Widayanto (Rasa Rindu), dan Edwyn C Ritra (Conversation).

Sebagai calon film terbaik, Rasa Rindu bersaing dengan film Conversation, dan Selamat Hari Lahir.

Fiesta Film Independen Bandung 2012 digagas dan digarap oleh segelintir peminat film dan seniman Bandung. Ketua Dewan Panitia Sophan Adjie mengatakan, ajang perdana ini mendapat kiriman 30 film indie. Semuanya berdurasi maksimal 30 menit. Pengirim antara lain berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Singkawang, Kalimantan Barat.

Panitia mengajak penggiat komunitas film Tobing. Jr, Awal Uzahra (sutradara lulusan dari Institut VGIK Rusia jurusan Sinematografi), serta seniman Setiwan Sabana sebagai juri festival yang akan digelar rutin dua tahun sekali. Film terbaik diproyeksikan ikut ajang film indie internasional di Eropa. "Sebab di sana jenis kamera yang dipakai boleh bebas," kata Sophan.

Sebelum penganugerahan, panitia menggelar diakusi tentang film-film indie pendek dari pelosok daerah. Pembicaranya antara lain Arya Kusuma Dewa (sutradara film independen) serta Ariani Darmawan (penggiat film independen).

ANWAR SISWADI

Berita Terkait
Bandung Gelar Fiesta Film Independen 2012
Menikmati Musik Tradisi di Kota Tambang 
Menikmati Musik Tradisi di Kota Tambang
Sikap dan Tata Cara Orang Korea Selatan
Ini Dia Tipe K-Poppers  


10.20 | 0 komentar | Read More

Nadine Chandrawinata Tertantang Jadi Anak Bungsu

Rabu, 05 Desember 2012 | 06:50 WIB

TEMPO.CO, Jakarta -Aktris Nadine Chandrawinata merasa tertantang menjadi anak bungsu dalam film terbarunya. Maklum saja di kehidupan asilnya, Nadine adalah anak sulung.

"Peran jadi anak bungsu ini bertolak belakang sekali dengan diri aku," katannya pada acara konferensi pers film Bidadari-Bidadari Surga di Planet Hollywood, Jakarta, Selasa, 4 Desember 2012.

Kakak si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata merasa sedikit kesulitan ketika harus bersikap manja dan tengil seperti perannya sebagai Yashinta. Ia tidak terbiasa dengan keadaan itu.

Ia pun merasa berbeda ketika harus selalu mengadu ke sang kakak ketika diisengin saudara-saudaranya yang lain. "Yang biasanya aku kasih nasihat ke adik-adik aku, sekarang aku yang harus pecicilan," katanya.

Pada film terbarunya, Bidadari-Bidadari Surga, Nadine berperan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dua kakak laki-lakinya ada yang selalu iseng kepadanya. Ia sempat mengadu atau berlindung kepada kakaknya yang lain.

Bidadari-Bidadari Surga menceritakan tentang kisah kasih dalam keluarga khususnya kasih antar kakak dan adik. Laisa, yang diperankan Nirina Zubir, sebagai kakak tertua dari lima bersaudara harus merawat ibu dan keempat adiknya. Ia cukup banyak berkorban sampai-sampai rela dilangkahi adik-adiknya untuk urusan menikah.

MITRA TARIGAN

Berita Terpopuler
Gerak Tari Menduplikasi Aksara Jawa
Maryam Supraba Calon Aktris Terbaik Film Indie
Sikap dan Tata Cara Orang Korea Selatan
Menikmati Musik Tradisi di Kota Tambang
Ini Dia Tipe K-Poppers  


10.20 | 0 komentar | Read More

Bandung Gelar Fiesta Film Independen 2012

Written By Unknown on Selasa, 04 Desember 2012 | 10.20

Garin Nugroho di LA Lights Indie Movie Goes To Cinema di Taman Budaya Dago Tea House, Bandung, Jawa Barat, (9/6). Ratusan peserta dari beberapa kota di Jawa Barat akan menggali pengalaman membuat film indie untuk format layar lebar. TEMPO/Prima Mulia

Selasa, 04 Desember 2012 | 05:01 WIB

TEMPO.CO , Bandung: Fiesta Film Independent Bandung (FFIB) 2012 menyemarakkan dunia film independen atau indie di Indonesia. Ajang perdana itu akan memberikan penghargaan buat insan dan film indie yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Perhelatannya akan berlangsung di Gedung New Majestic, Jalan Braga, Bandung, pada hari ini, Selasa, 4 Desember 2012.

Ketua Dewan Panitia, Sophan Adjie, mengatakan total ada 30 film indie kiriman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan juga Singkawang, Kalimantan Barat. Tahapan seleksi dilakukan untuk mendapatkan 5 film nominasi yang akan meraih penghargaan film indie terbaik. Panitia juga akan memberikan anugerah bagi sutradara dan aktor serta aktris terbaik.

Pembuat film indie itu, menurut Sophan, kalangan usia pelajar SMP hingga mahasiswa. Pesertanya sengaja disyaratkan yang masih amatir. Tujuannya agar potensi pembuat film di Indonesia semakin berkembang. "Kami juga bebaskan kamera yang dipakai untuk jenis amatir, pakai kamera handphone juga bisa," kata penggagas acara tersebut.

Menurut Sophan, tema Festival Film Indie ini berjudul Inspirasi dari yang Kecil. Alasannya, panitia ingin mengajak semua peminat dan pembuat film indie di Indonesia yang masih baru. Tema cerita filmnya juga sederhana, tentang keseharian di daerah masing-masing. "Ada yang bikin film tentang cinta, dunia kampus, dan sebagainya," ujar Sophan.

Walau masih baru, karya film indie buatan peserta itu seluruhnya digarap serius. Beberapa film hidup oleh kekuatan aktor dan aktris serta pengambilan sudut gambar yang beragam seperti film-film Hollywood. Festival ini, dia menambahkan, akan dilanjutkan tiap dua tahun sekali. Tema dan standarnya akan diubah karena film terbaik rencananya akan mereka kirimkan ke berbagai ajang Festival Film Indie di Eropa.

ANWAR SISWADI

Berita Lainnya:
Chiquita Meidy, Penyanyi Cilik Yang Kini Pengarang Lagu Anak
Kasus Bupati Garut Aceng, T2: Malu Banget 
Syahrini Duet dengan Anak Tunawicara 
Apa Kata Smash Soal Operasi Plastik Ala K-Pop  


10.20 | 0 komentar | Read More

Gerak Tari Menduplikasi Aksara Jawa

Selasa, 04 Desember 2012 | 08:27 WIB

TEMPO.CO, Surakarta - Bagaimana tubuh membuat bentuk visual aksara? Inilah yang dilakukan enam penari kelompok Independent Expression di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Senin malam, 3 Desember 2012. Dalam pentas tari bertajuk Aksara Tubuh, penari mengeksplorasi kelenturan tubuh mereka dengan meliukkan tangan, bahu, pinggang, leher, bahkan menggulingkan tubuh mereka untuk menduplikasi lengkungan huruf Jawa yang disebut Hanacaraka itu.

Gerak tubuh meliuk dan melengkung dilakukan dengan ekstrem dan mendominasi pementasan berdurasi 60 menit itu. Keenam penari menggunakan berbagai sudut ruang untuk bergerak. Tidak hanya di panggung, mereka juga melakukan eksplorasi gerak di kursi tribun penonton yang sengaja dikosongkan.

"Aksara Tubuh mencoba mendaur ulang gerakan tari tradisional Jawa menjadi sebuah gerak kontemporer," ujar koreografer tari ini, Bobby Ari Setiawan.

Sentuhan penggunaan peralatan multimedia membuat pertunjukan itu lebih berwarna. Animasi huruf ciptaan Aji Saka itu disorotkan ke dinding ruangan. Terkadang, penari sengaja membiarkan sorot proyektor menerpa tubuh mereka.

Pentas tari ini diiringi berbagai musik dengan pergantian yang ekstrem. Iringan musik tekno tiba-tiba berubah menjadi suara gamelan, bahkan menjadi lagu Rayuan Pulau Kelapa, yang masih sering diperdengarkan pada siaran Radio Republik Indonesia. "Bicara tentang bahasa Jawa, kami harus riset dengan sering mendengarkan siaran Radio Republik Indonesia," kata Bobby. Dia masih ingin mencoba menafsirkan makna filosofis tiap huruf Hanacaraka, dengan tetap menjadikan tubuh sebagai medium.

Sejak berdiri 10 tahun lalu, Independent Expression mencoba fokus pada tari kontemporer berbasis tradisi. Penari merupakan mahasiswa dan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, yang mendalami tari tradisional, khususnya tarian Jawa.

Seniman gerak, Suprapto Suryodarmo, menilai Aksara Tubuh merupakan hasil keliaran dalam penggalian kreativitas. "Ide yang liar ini menghasilkan pertunjukan yang segar dan berbeda," kata pengasuh Padepokan Lemah Putih ini.

AHMAD RAFIQ

Berita populer
Bupati Garut Aceng: Saya Masih Sayang Fany
Fany Oktora Laporkan Bupati Garut ke Mabes Polri
Pramono Anung: Bupati Garut Harus Ditegur
Janda Bupati Garut Alami Kekerasan Psikis
Janda Bupati Garut Sebenarnya ''Ogah'' Lapor ke Polisi
Heboh Video Ahok, PRJ Belum Mau Berkomentar


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger