Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Konser Clapton Tanpa Cocaine (habis)

Written By Unknown on Kamis, 06 Maret 2014 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Di panggung itu, Eric Clapton menumpahkan apa yang oleh Jimi Hendrix sebut sebagai gelegak blues. "Saat engkau memainkan blues, pantulan dunia dan pantulan sejarah hidupmu ada di blues," ucap Hendrix.

Segera saja terbayang diorama Clapton saat ia membawakan 16 lagu Selasa 4 Maret malam di Singapore Indoor Stadium. Lewat "Hoochie Coochie Man" yang melukiskan seorang bocah yang diramalkan seorang gypsy bakal menjadi "son of the gun", misalnya, kita tahu tentang kehidupan Clapton kecil yang keras.

Kaget bahwa dua orang yang menyayanginya sejak kecil ternyata bukan ayah-ibunya, tapi kakek-neneknya, membuat ia kecewa pada hidup. Clapton pun kemudian lebih percaya pada jalanan. Ia terjun di dunia yang keras dan mematikan. Ia tenggelam dalam ketergantungan obat-obatan yang nyaris menamatkannya.

Karena itu nomor "Cocaine" yang menjadi salah satu pantulan kisah hidupnya itu begitu ditunggu penonton. Begitu pula "Tears in Heaven" yang bertutur tentang Clapton yang kehilangan anaknya yang jatuh dari apartemen. Satu lagi, tentu saja "Layla" yang kerap dihubungkan dengan kebengalan Clapton saat merebut kekasih sahabatnya, George Harrison.

Tapi penggemar Clapton yang sudah dihanyutkan dalam keindahan blues sejak pukul 20.20 rupanya harus kecewa. Tak ada "Cocaine" seperti ada dalam daftar lagu lima konsernya di Jepang Februari lalu. Kendati penonton berteriak "we want more!" berulang-ulang,  tak ada "Cocaine" yang terhidang di hadapan penonton. Sungguh sayang.

Untunglah Clapton menyuguhkan nomor-nomor akustik yang lebih banyak dari konsernya terdahulu. Sebanyak lima dari 16 lagu dimainkan secara akustik, termasuk "Layla". Empat lagu lain: "Drifting Blues", "Nobody Knows", "Alabama Woman Blues" dan "Tears in Heaven". Dari nomor akustik ini, suasana ngelangut dan melenakan segera merebut hati penonton.

Lima lagu itu telah membawa penonton ke suasana yang lebih privat. Mereka seperti diayun-ayun ke dalam keheningan malam. Clapton benar-benar lihai membawa siapa pun pendengarnya ke jantung blues yang menyayat-nyayat malam. Ia tampak dengan sabar dan tenang menyuguhkan petikan-petikan gitarnya yang bening untuk merebut hati penonton dan membawanya ke dalam pelukan blues. Ah, sebuah malam yang tak tergantikan.

Saat konser berakhir pukul 22.00, dan para penonton kembali menyelinap di gerbong-gerbong kereta atau menembus jalanan malam, denting-denting gitar dan vokal Clapton itu masih terngiang di kepala. "I'll find my way/ through night and day/ Cause I know i just can't stay/Here in heaven/..." (habis)

YOS RIZAL (Singapura)

Terkait:


Eric Clapton dan Singapura yang Kelewat Kalem (1)
Malam Blues yang Tak Akan Pernah Datang Lagi (2)

 


10.20 | 0 komentar | Read More

Apa Jadinya Kalau Jojon Tanpa Kumis  

Pelawak jenaka, Djuhri Masdjan atau lebih dikenal Jojon telah menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung di salah satu rumah sakit di kawasan Jatinegara, Jakarta, (6/3). Dok.TEMPO/Nanang Baso

TEMPO.CO, Jakarta - Harimau mati meninggalkan belang, Jojon wafat meninggalkan 'kumis'. Jojon, pelawak yang sudah berkiprah sejak tahun 1972 itu, meninggal pada Kamis, 6 Maret 2014 pukul 06.04 WIB. (Baca: Pelawak Jojon Tutup Usia)

Memang, pada era 1980-an, Jojon dan kelompok lawaknya Jayakarta Grup mendominasi acara hiburan di TVRI. Mulai dari "Kamera Ria" atau "Aneka Ria Safari."  Selama 15-20 menit, grup lawak ini mengocok perut pemirsa televisi satu-satunya di Indonesia saat itu.(Baca: Jojon Pernah Manggung di Klub Malam)

Ciri utama Jojon adalah kumisnya yang mengikuti kumis Charlie Chaplin, pelawak top Inggris. Kumis Jojon di televisi ketika itu menjadi trademark tersendiri, selain kumis Pak Raden yang baplang.

Pak Raden adalah tokoh dalam film boneka Si Unyil. Film ini juga mendominasi acara TVRI untuk anak-anak pada periode 1970 sampai 1980-an. Kumis Pak Raden memang beda jauh dengan Jojon.

Bagi Jojon yang aslinya bernama Djuhri Masdjan, kumis menjadi jimat tersendiri. Apakah aslinya dia berkumis ? Bagaimana sehari-harinya kalau dia tak berkumis?

Kepada Tempo, dia punya cerita lucu soal kumisnya itu.  Tahun 1980-an, Jayakarta Grup mengadakan pertunjukan di daerah. Mereka kedatangan seorang wanita. Jojon, yang kebetulan sedang rileks, menerima wanita itu. Namun, si wanita itu belum sadar dia berbicara dengan siapa. Dia menyatakan tetap ingin bertemu dengan grup lawak pujaannya. Dia pun ingin berfoto bersama.

Tidak dikenali wanita itu, Jojon malah keenakan. Dia kemudian memanggil para personel lainnya. Katanya, ada yang ingin berfoto bersama. Tiga rekannya datang. Dia pun memilih untuk ngeloyor. Si wanita antusias sekali. Dia memasang kamera, tapi tiba-tiba dia merasa ada yang kurang. "Jojon ke mana?" tanyanya.

Pertanyaan itu sontak menerbitkan tawa. Padahal mereka biasanya yang kerap memancing orang untuk tertawa. "Lo, yang tadi Ibu ajak ngobrol itu Jojon," kata salah satu dari mereka. Nah, si wanita itu pun hanya melongo. Tak disangka orang yang serius dengan dandanan yang berbeda itu adalah Jojon, pelawak yang kerap tampil nyentrik dengan banyolan yang mengundang tawa. (Baca: Jojon Meninggal, Ini Kesan Pelawak Doyok)

UWD | TEMPO 

Terpopuler:
Pamer Foto Tembak Kucing Ala Danang Tak Wajar
Anas Urbaningrum Jadi Tersangka Pencucian Uang
Diusir Mahasiswa Bandung, Prabowo Kecewa Berat


10.20 | 0 komentar | Read More

Gagal Raih Oscar, Jagal Tuai Hits di YouTube  

Written By Unknown on Selasa, 04 Maret 2014 | 10.20

Joshua Oppenheimer meraih penghargaan dokumenter terbaik lewat filmnya "The Act Of Killing" dalam British Academy of Film and Arts (BAFTA) awards di Royal Opera House, London, Inggris, Minggu (16/2). REUTERS/Suzanne Plunkett

TEMPO.CO, Jakarta - The Act of Killing atau Jagal memang gagal meraih piala untuk nominasi Best Documentary Feature dalam ajang Oscar pada Minggu, 2 Maret 2014, waktu setempat. Namun, sutradata film Jagal, Joshua Oppenheimer, menjelaskan tujuan pembuatan film ini memang bukan untuk menyabet Piala Oscar, tetapi untuk membawa perubahan pada masyarakat, khususnya di Indonesia.

Joshua dan timnya, termasuk 60 kru dari Indonesia, bekerja selama sembilan tahun penuh hingga akhirnya rampung pada 2012. Lokasi pengambilan film dilakukan di Medan sejak 2005 hingga 2011.

Saat ditanya The Telegraph, Joshua menjawab film ini sudah ditonton jutaan rakyat Indonesia, baik lewat YouTube atau situs film dan streaming. Di Amerika, tiket penjualan Jagal berhasil tembus ke angka 50 ribu tiket.

"Tantangan terbesar kami adalah bagaimana agar orang-orang mau menonton film ini. Mereka akan merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan kebenaran yang menyakitkan. Namun, film ini berhasil membawa perubahan pada pandangan masyarakat," kata Joshua pada situs Telegraph.

Lewat wawancara via Skype, Joshua mejelaskan kekalahan Jagal di Oscar sempat membuat sejumlah kru orang Indonesia kecewa. Namun, Joshua bangga ketika Jagal sudah membawa perubahan untuk masyarakat Indonesia.

"Warga keturunan korban pembunuhan massal yang tinggal di Pati, Jawa Tengah, sudah menonton film ini. Mereka kemudian berbondong-bondong meletakkan batu nisan di atas tanah makam keluarganya sebagai bentuk penghormatan. Itu benar-benar menyentuh hati saya. Ini menandakan mereka tak lagi takut dan mereka tak bisa dibungkam lagi," kata Joshua.

RINDU P HESTYA | THE TELEGRAPH


Berita Lain:

12 Years A Slave Film Terbaik, Gravity Terbanyak
Siapa Saja Pemenang Oscar 2014?
Oscar 2014, Jennifer Lawrence Terjatuh Lagi
Lagi-lagi Leonardo DiCaprio Gagal Raih Oscar
Fatin Shidqia Tidak Suka Makan Daging dan Ikan


10.20 | 0 komentar | Read More

Presiden Kenya: Lupita Nyong'o Kebanggaan Afrika  

Lupita Nyong’o mengangkat Piala Oscar yang diterimanya, setelah memenangkan "artis pendukung terbaik" lewat film "12 Years a Slave" di Dolby Theatre, Los Angeles, (3/3). John Shearer/Invision/AP

TEMPO.CO, Nairobi – Kemenangan Lupita Nyong'o dalam ajang Academy Awards atau Piala Oscar turut membawa kebahagiaan bagi segenap rakyat Kenya, tempat Lupita dibesarkan. Sejumlah perayaan terlihat di beberapa tempat di Kenya setelah wanita berkulit eksotis ini membawa pulang hadiah untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik.

Seperti diberitakan ABC News, aktris yang bermain dalam film 12 Years of Slave ini menjadi berita utama di seluruh Afrika, termasuk di Nigeria dan Afrika Selatan.

Bahkan Presiden Kenya Uhuru Kenyatta terang-terangan memujinya lewat Twitter. Dalam akunnya, Kenyatta mencuit bahwa Lupita adalah "Kebanggaan bagi Afrika".

Sesuai dengan tradisi Kenya, Kenyatta juga mengucapkan selamat kepada orang tua Lupita atas keberhasilan mereka mendidik Lupita hingga mendapat prestasi yang gemilang dalam memainkan tokoh Patsy dalam film tersebut.

"Ia menjadi inspirasi bagi Kenya. Lupita mengingatkan kita bahwa semua hal bisa terjadi pada anak bangsa ini jika mereka menetapkan hati dan pikiran mereka untuk tugas yang besar," kata Kenyatta dalam sebuah pernyataan.

Tidak sampai di situ, Kenyatta juga menyatakan, untuk menghormati Lupita, pemerintah akan membentuk peluang baru dalam perkembangan seni, seperti membangun sebuah sekolah film baru di Kenya.

ANINGTIAS JATMIKA | ABC NEWS

Terpopuler
12 Years A Slave Film Terbaik, Gravity Terbanyak 
Siapa Saja Pemenang Oscar 2014? 
Lagi-lagi Leonardo DiCaprio Gagal Raih Oscar 
Fatin Shidqia Tidak Suka Makan Daging dan Ikan  


10.20 | 0 komentar | Read More

Gravity Menang Best Visual Effect di Oscar 2014

Written By Unknown on Senin, 03 Maret 2014 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Gravity berhasil menyabet penghargaan Oscar 2014 untuk kategori Best Visual Effect. Film yang dibintangi oleh Sandra Bullock ini berhasil mengalahkan, Hobbit: The Desolation of Smaug, Iron Man 3, The Lone Ranger, dan Star Trek Into Darkness.

Gravity bersama dengan American Hustle berhasil menjuarai nominasi dengan 10 kategori, sedangkan 12 Years of a Slave mengekor di belakangnya dengan 9 kategori. Kemenangan Gravity ini berhasil membuat karya Alfonso Cuaron menjadi film fiksi ilmiah yang pertama menerima Oscar.

Kemenangan Gravity dalam ajang penghargaan memang bukan yang pertama diraih. Di BAFTA, film ini berhasil memboyong enam penghargaan BAFTA, Best Director di  Outstanding British Film dan Golden Globe, dan enam penghargaan dari Critics Choice Awards.

Tim Gravity kini sedang menunggu pengumuman nominasi lainnya, termasuk untuk Sandra Bullcok yang masuk dalam kategori Best Actreess, Best Pictures, dan Best Director untuk Alfonso Cuaron.

RINDU P HESTYA | LOS ANGELES TIME

Berita Lain:
Film ini Menampilkan Yesus yang Seksi
Gwen Stefani Lahirkan Anak Ketiga 
Kok Ada Agnes Monica di Java Jazz?
Di Oscar 2014, Brad Pitt Menjadi Pembaca Nominasi


10.20 | 0 komentar | Read More

Oscar 2014, Gaun Cate Blanchett Bertabur Kristal

TEMPO.CO, California - Meski hujan sempat mengguyur ajang Academy Awards atau Oscar 2014, sejumlah aktor dan aktris yang datang tetap tampil memukau. Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilam Cate Blanchett yang sangat mempesona dalam balutan gaun Armany Prive bertabur kristal Swarovski.

"Gaun ini berat, tapi aku menyukainya. Saya harap bisa bertahan sampai akhir acara," kata Cate kepada E! News.

Memang gaun dengan warna nude ini bertabur kristal di seluruh bagiannya dari bahu hingga ujung gaun yang menjuntai. Selain taburan kristal, tampilan Cate semakin glamor dengan tambahan aksesori perak dari Chopard.

Cate datang sebagai nomine untuk Best Performance by an Actress in a Leading Role untuk film Blue Jasmine. Cate harus bersaing dengan Amy Adam di American Hustle, Meryl Streep di August: Osage County, Sandra Bullock di Gravity, dan Judi Dench di Philomena.

RINDU P HESTYA | E! NEWS | JUST JARED

Berita Lain:
Film ini Menampilkan Yesus yang Seksi
Gwen Stefani Lahirkan Anak Ketiga 
Kok Ada Agnes Monica di Java Jazz?
Di Oscar 2014, Brad Pitt Menjadi Pembaca Nominasi


10.20 | 0 komentar | Read More

Kemeriahan Java Jazz Hari Kedua

Written By Unknown on Minggu, 02 Maret 2014 | 10.20

Aksi panggung Jamie Cullum pada hari pertama "Java Jazz 2014" di Jakarta, (28/2). Semua ia lakukan tanpa ragu, sangat menghibur dan terdengar padu-mengasyikan. ANTARA/Fanny Octavianus

TEMPO.CO, Jakarta - Java Jazz Festival memasuki hari kedua pada Sabtu, 1 Maret 2014. Sejak pukul 16.00 WIB, acara yang digelar di JI-Expo Kemayoran sudah menyajikan berbagai pertunjukkan dari para musisi jazz dalam dan luar negeri.

Musisi yang menjadi pembuka Java Jazz festival 2014 hari kedua adalah Sanur Bali Jazz Project feat Damez Nababan, P Project Big Band, Musikimia, Endah N Resha Extended dan lainnya. Untuk daftar musisi yang  tampil pada hari  ini, di antaranya Incognito, Krakatau Reunion, Sadao Watanabe, Idang Rasjidi, Legendary Chrisye, Tohpati, Dewa Budjana, dan JKT48. (Baca: Jamie Cullum Beat Box di Panggung Java Jazz 2014)

Untuk hari ini, Java Jazz Festival akan terlaksana hingga pukul 01.15 WIB dini hari. 

Java Jazz Festival 2014 merupakan acara yang menyuguhkan penampilan musisi jazz bertaraf i ternasional, yang terselenggara sejak tanggal 28 Februari 2014, 1-2 Maret 2014. Pertunjukkan ini nanti nya juga akan menampilkan musisi mancanegara lainnya dengan menampilkan sekitar 180 pertunjukkan dengan ribuan artis Indonesia dan 385 musisi mancanegara. (Baca: Sadao Watanabe Pukau Penonton Java Jazz Festival)

ANINDYA LEGIA PUTRI

Terpopuler:
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )
Filipina dan Moro Akan Teken Kesepakatan Damai Maret
Ukraina Tuding Rusia Lakukan Invasi Militer


10.20 | 0 komentar | Read More

Menpora Nyanyi Bareng Slank, Penonton Sempat Ricuh  

Grup band Slank tampil dalam konser akbar 30 tahun "Slank Nggak Ada Matinya" di Gelora Bung Karno, Jakarta, (13/12). Konsertersebut menampilkan lagu yang menjadi hits seperti: Lorong Hitam, Kalah, Suit Suit He He, Bang Bang Tut, I Miss U But I hate U. ANTARA/Teresia May

TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo tampil satu panggung dengan kelompok musik Slank saat acara pengukuhan Yogyakarta Kota Sumpah Pemuda di Alun-Alun Selatan, Sabtu petang, 1 Maret 2014.

Kegiatan yang dilangsungkan bertepatan dengan Peringatan Serangan Umum 1 Maret 2014 itu diwarnai aksi menyanyi bersama jajaran Kementerian Pemuda dan Olahraga dipimpin Roy Suryo dengan kelompok Slank.

Namun ada kejadian tak terduga yang sempat mengganggu jalannya kolaborasi panggung itu.
Saat Menpora Roy Suryo dan para stafnya tengah bersemangat menyanyikan bersama lagu Ku Tak Bisa bersama personel Slank, penonton barisan depan nyaris ricuh.

Kericuhan diduga dipicu karena senggolan antarkelompok Slanker, fan Slank, yang datang dari dua daerah berbeda luar Yogya. Padahal sebelumnya, saat sekitar 15 lagu dilantunkan lebih dahulu oleh kelompok asal Gang Potlot itu, kondisi penonton relatif kondusif tanpa keributan.

Gejala keributan di bawah panggung itu sampai mengusik Kaka, vokalis Slank, yang sedang menyanyi bersama Roy Suryo serta stafnya. Spontan Kaka langsung meninggalkan kolaborasi itu dan mendekati bibir panggung guna melerai dua kelompok yang nyaris ricuh. Sedangkan Menpora dan stafnya masih terus menyanyi dengan iringan Bim-Bim cs.

"Sudah, sudah, jangan diterusin," ujar Kaka sambil menggerakkan dua tangannya ke bawah, tanda meminta dua kelompok fan yang nyaris ribut itu tenang. Selama kolaborasi tersebut, Kaka tampak mondar-mandir meninggalkan mikrofonnya demi meredam keributan antarkelompok yang tak segera reda itu. (Baca: Slank Bawakan 30 Lagu dan Putar Film di Yogyakarta)

Pada pengujung lagu Ku Tak Bisa, dua kelompok penonton yang berseteru kembali memanas dan saling caci. Kali ini gitaris Slank, Abdee, ikut merapat ke bibir pojok panggung demi menenangkan penonton.

Setelah pihak keamanan ikut turun dan melerai, baru dua kelompok itu lebih tenang. "Enggak usah ngaku Slanker kalau enggak bisa jaga damai, itu aktivis namanya," kata Bim-Bim yang baru ikut merapat ke bibir panggung setelah kolaborasi dengan Menpora serta stafnya usai.

PRIBADI WICAKSONO

Berita Terpopuler
Kemeriahan Java Jazz Hari Kedua
Pentas Perdana Coboy Junior di Floating Castle
Jamie Cullum Beat Box di Panggung Java Jazz 2014
Festival Film Pendek Jabodetabeka di Bulungan  


10.20 | 0 komentar | Read More

Afgan Kenang Sewaktu Dia Manggung di Java Jazz

Written By Unknown on Sabtu, 01 Maret 2014 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta -Afgansyah Reza bukan kali pertama bagi dia untuk tampil berjazzy ria di pentas Java Jazz. Ia sudah memulai pengalamannya tersebut sejak tahun 2008. Tepat di mana saat itu dirinya belum terlalu terkenal seperti saat ini. Panggung Java Jazz menjadi salah satu pentas yang menopang kehadirannya ke dunia industri musik sehingga dapat dikenal seperti saat ini.

"Dulu saya main di Java Jazz tahun 2008. Rambut masih culun gitu kayak Justin Bieber," kata Afgan sembari menunjukkan lesung pipinya. Pada kesempatan tersebut ada beberapa bintang tamu yang hadir memeriahkan Afgan bernyanyi. Turut hadir musisi jazz Barry Likumahuwa yang mengiringinya membawakan lagu Terima Kasih Cinta dan Dia Dia Dia. Lalu hadir pula Nino RAN, Raisa, dan tentu saja si Burung Camar, Vina Panduwinata.

Afgan pun bercerita sedikit tentang perjalanannya meniti karir hingga akhirnya terkenal sampai saat ini, "Saya ditempatin di hall yang nggak ada panggungnya, cuma di lantai, tapi sekarang, malam ini terasa banget saya manggung di Java Jazz," kata Afgan lagi. Malam itu hall D tempat Afgan mengisi acara memang sangat penuh.(Baca : Afgan Dikritik Penggemar Karena Terlalu Formal )

Enam tahun ikut ahdir dalam acara Java Jazz, di tengah kondisi fisiknya yang saat itu tidak terlalu fit, Afgan menjadi tidak merasa sedang sakit. "Ini berkali-kali lipat sekali, melihat penonton yang banyak dan penuh saya jadi semangat dan lupa kalau lagi nggak sehat," kata dia saat ditemui Tempo usai acara.

AISHA

Berita Terpopuler
Pakai Kalung 'Allah', Video Katy Perry Diedit 
Masuk Oscar, Film Ini Tak Tayang di Negerinya
Sandra Bullock Dapatkan Rp 812 M dari Film Gravity 
Teater Koma Gelar Pentas Demonstran  


10.20 | 0 komentar | Read More

Jamie Cullum Beat Box di Panggung Java Jazz 2014

TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki pertengahan penampilannya di pentas Java Jazz 2014, Jamie Cullum tampil semakin penuh energi. Menyanyi sambil melompat, menyanyi sembari mendekati penonton hingga membuat mereka kegirangan dapat memotret idolanya dari dekat.

Mindtrick, Everlasting Love merupakan tembang-tembang yang tidak mungkin luput dibawakan oleh Jamie. Lagu-lagu tersebut mendapatkan tepuk paling riuh karena sangat tidak asing di telinga. Tidak hanya itu, Jamie pun sempat tampil ber-beatbox ria. Ia mengeluarkan bermacam suara lewat mulutnya dipadu dengan ringannya tangan memukuli bagian atas pianonya seolah sedang memukul gendang. Ia pun menyentuh bagian snare piano dengan santainya, namun tetap menghasilnya nada yang harmonis.

Semua ia lakukan tanpa ragu dan begitu dinikmati penuh penghayatan, tidak lupa semuanya sangat menghibur dan terdengar padu-mengasyikan. Aksi beat-boxnya tersebut sempat dimedley dengan lagu Get Lucky-nya Daft Punk. Lagu-lagu berikutnya dibawakan Jame dengan beat yang semakin tinggi. When I Get Famous, Dont Stop The Music, All at Sea dibawakan sebelum akhirnya Jamie membawakan encore.

Terakhir kalinya Jamie hadir di Java Jazz Festival 7 tahun lalu. Ia pun sempat berseloroh, "Saya datang ke sini tujuh tahun yang lalu, lebih muda dari saat ini. Siapa yang saat itu juga hadir di sini? Bagaimana denganmu? Apakah merasa lebih muda juga?" tanyanya mengundang tawa penonton.(Baca : Jamie Cullum Memukau Panggung Java Jazz 2014)

Jamie membawakan lagu total 16 buah dalam rentang 90 menit. Selama itu pula dirinya menghibur dengan banyak aksi panggung yang menarik dan tidak membuat jemu. Tak lama setelah selesai menutup hari pertama Java Jazz 2014, Jamie pun sempat mengambarkan perasaannya lewat akun twitternya, "The @JavaJazzFest show was crazy tonight. Heading home with the sound of your cheering ringing in my ears."

AISHA

Berita Terpopuler
Pakai Kalung 'Allah', Video Katy Perry Diedit 
Masuk Oscar, Film Ini Tak Tayang di Negerinya
Sandra Bullock Dapatkan Rp 812 M dari Film Gravity 
Yogyakarta Tampilkan Sinden di Java Jazz 2014
Teater Koma Gelar Pentas Demonstran  


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger