Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tampil Bareng Andien dan Raisa, Slank Akan 'Sopan`  

Written By Unknown on Jumat, 05 Juli 2013 | 10.20

Kaka Slank berbicara dalam memperikan keterangan kepada wartawan saat jumpa pers di Hotel Kartika Graha, Malang, Jawa Timur, (4/7). Slank akan berkolaborasi bersama Raisa dan Andien untuk menghibur warga Malang malam ini. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Malang -Kelompok musik rock Slank bakal berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi cantik: Andien dan Raisa, di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang, Kamis, 4 Juli 2013 malam ini. Mereka akan menampilkan 23 lagu dari seluruh albumnya yang pernah beredar. Aransemen musik Slank bahkan akan disesuaikan karakter vokal kedua penyanyi itu. "Slank juga akrab dengan perempuan, meski selama ini dikenal brutal," kata punggawa grup ini, Bimbim Slank.

Di pengujung konser, Slank akan membawakan dua lagu secara medley bersama artis pendukung. Satu lagu berjudul Kamu Harus Pulang. Tapi lagu yang kedua masih rahasia.

Karena tampil bersama gadis cantik, Slank kali ini berjanji akan tampil berbeda. Mereka akan mengenakan pakaian formal nan rapi. Tapi kesan gaya urakan Slank tampaknya akan tetap melekat sebagaimana gaya kelompok yang sudah berkarya selama 30 tahun ini. Kaka, sang  vokalis, mengaku akan lebih dekat dan berinteraksi dengan para penonton selama penampilannya. "Tapi tak ada buka baju," katanya sambil tertawa.

Konser indoor ini, kata Bimbim, merupakan kali kedua di Malang. Mereka pernah tampil pada 1991 di Gelanggang Olahraga Pulosari Malang. Kini, GOR Pulosari telah berubah menjadi toko swalayan.

Bimbim juga memuji Kota Malang dan menyebutnya sebagai ibukota bagi slanker di Jawa Timur. Apresiasi slanker di Malang dinilai selalu sopan dan antusias. Konser malam ini merupakan rangkaian tur delapan kota Slank. Konser ini mengikuti konsep indoor untuk "Slanker wangi" yang bakal hadir di Malang. Penonton diperkirakan mencapai 2 ribu orang.

EKO WIDIANTO

Topik Terhangat:
Tarif Progresif KRL | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Puncak HUT Jakarta

Berita Terpopuler:
Saran Bank Dunia: Naikkan Lagi Harga BBM 
Dianiaya Kopassus, Gigi Sipir Cebongan Rusak 
BlackBerry Selidiki Penyebab Gangguan BBM


10.20 | 0 komentar | Read More

Album Kedua Raisa Lebih Menonjolkan Vokal

Kaka Slank berbicara dalam memperikan keterangan kepada wartawan saat jumpa pers di Hotel Kartika Graha, Malang, Jawa Timur, (4/7). Slank akan berkolaborasi bersama Raisa dan Andien untuk menghibur warga Malang malam ini. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO , Malang:Raisa bakal merilis album kedua setelah lebaran. Materi lagu dalam album itu 70 persennya buatan Raisa sendiri. Total ada sembilan lagu dalam album baru itu. "Satu single diluncurkan dulu berjudul Bye Bye," kata Raisa menjelang konser kolaborasi dengan Slank di Malang, Jawa Timur, Kamis, 4 Juli 2013.

Lagu-lagu dalam album itu berirama RnB. Raisa akan  menonjolkan kualitas vokalnya sebagai pendatang baru di blantika musik Indoensia. Raisa merilis album pertama pada 2011. Lagu anadalannya Serba Salah, Apalah (Arti Menunggu), dan Could It Be. Album perdana Raisa tergolong sukses di pasaran, bahkan berhasil menduduki peringkat lima album terlaris Indonesia sepanjang 2012.

Gadis kelahiran 6 Juni 1990 ini menjajal sebagai eksekutif produser dalam album keduanya. Sehingga Raisa akan berperan besar dalam album ini. Dampaknya album ini menjadi karya utama bagi penyanyi muda ini."Album pertama kan pengenalan siapa itu Raisa, album kedua lebih dari itu," katanya.

Raisa ingin memberikan pengaruh dengan menonjolkan musik RnB bagi penikmat musik Indonesia.

EKO WIDIANTO

Topik Terhangat:
Tarif Progresif KRL | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Puncak HUT Jakarta


10.20 | 0 komentar | Read More

Lukisan Raden Saleh Direstorasi

Written By Unknown on Kamis, 04 Juli 2013 | 10.20

TEMPO.CO , Magelang:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan merestorasi lukisan Raden Saleh. Restorasi akan dilanjutkan pada karya maestro lainnya.  Wakil Menteri Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti mengatakan lukisan Raden Saleh sangat memprihatinkan di Istana Tampak Siring, Jakarta, Yogyakarta, serta Bogor.

"Karena kondisinya memprihatinkan, kami memutuskan merestorasi. Ini juga merupakan permintaan masyarakat," kata Wiendu.  Restorasi yang baru pertama kalinya ini dilakukan pada lima lukisan di Istana Bogor.  Ada sebanyak 17 lukisan dari Raden Saleh di seluruh Istana.

Restorasi akan melibatkan retorator asal Jerman. Restorasi tahap pertama berlangsung Jumat, 28 Juni 2013. Dua restorator sudah didatangkan. Restorator dari Jerman didatangkan sebab Indonesia belum memiliki tim ahli khusus.

Wiendu mengatakan restorasi lukisan Raden Saleh akan berlanjut dengan lukisan karya maestro lain. Pihaknya pun berharap karya maestro lain nantinya akan bisa direstorasi di pusat restorasi profesional yang akan dibangun pemerintah.  Restorasi Raden Saleh ini juga akan ditindaklanjuti dengan penentuan Hari Seni Rupa Indonesia yang mengacu pada hari wafat Raden Saleh.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menetapkan 20 cagar budaya baru seperti naskah proklamasi, gunung Padang, dan lainnya. Wiendu mengatakan total cagar budaya baru yang tercatat sebanyak 65.108 buah.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

Topik Terhangat:
Tarif Progresif KRL | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Puncak HUT Jakarta

Berita Terpopuler:
PAN Tolak RUU Ormas, 'Pecat Besan!' 
Ada SBY, Tepuk Tangan Meriahnya untuk Jokowi
Rumah Banyak, Satu yang Jadi Favorit Djoko Susilo


10.20 | 0 komentar | Read More

Lokananta Akan Rilis Album Indonesia Raya

TEMPO.CO, Malang - Studio rekaman legendaris asal Solo, Lokananta, akan memperbanyak penyebaran lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan dalam satu album cakram padat (compact disc) untuk dibagikan kepada 15 ribu mahasiswa baru Universitas Brawijaya, Malang.

"Itu baru sebatas ide, gagasan, dan rencana yang kami bicarakan tadi malam di Galeri Malang Bernyanyi. Pembicaraan kami belum tuntas. Detailnya belum final. Teman dari Universitas Brawijaya akan membawa ide, gagasan, dan rencana itu ke tingkat rektorat," kata Pendi Heryadi, Kepala Perum PRNI Lokananta Cabang Surakarta, kepada Tempo, Rabu, 3 Juli 2013.

Pendi mengaku sangat gembira bila gagasan itu terwujud. Lokananta sangat membutuhkan biaya operasional agar tetap bertahan. Untuk bisa beroperasional seadanya saja, Lokananta membutuhkan dana Rp 45 juta per bulan. Ia mengistilahkan biaya operasional Rp 45 juta sama dengan `balik modal` atawa break even point.

Besaran biaya operasional ini sudah termasuk untuk biaya pemeliharaan dan menggaji 19 karyawan. Biaya pemeliharaan itu antara lain untuk merawat 40 ribu piringan hitam dengan 5 ribuan judul. Separuh dari seluruh koleksi piringan hitam kini terancam rusak karena tidak lagi bersampul.

Lagu Indonesia Raya dan sejumlah lagu perjuangan dipilih untuk memberi pemahaman tentang semangat kebangsaan atau nasionalisme dan patriotisme yang dirasa sekarang makin memudar di kalangan generasi muda.

Pertemuan Lokananta dan Universitas Brawijaya difasilitasi Galeri Malang Bernyanyi. Rianto, dosen Fakultas Ilmu Administrasi yang juga Ketua Paguyuban Seni Budaya Universitas Brawijaya, turut hadir. Rianto mengaku terlibat dalam pertemuan karena tertarik dengan ide tersebut, sekaligus ingin membantu Lokananta yang dalam kondisi hampir sekarat. Ia berharap ide dan niat baik itu bisa didukung rektorat.

Ketua Galeri, Hengki Herwanto, menyatakan hanya bertindak sebagai fasilitator pertemuan. Galeri, kata Hengki, memberi respek tinggi kepada pihak-pihak yang ingin membantu Lokananta. Bekas wartawan majalah musik Aktuil ini sangat berharap ide bersama itu terwujud dan mendorong banyak pihak untuk peduli dan beraksi nyata membantu Lokananta.

"Sudah terlalu banyak wacana ingin menyelamatkan Lokananta, tapi belum ada yang terwujud. Kami coba membantu dengan cara yang sederhana dan konkret, seperti membuat G-2000," kata Hengki. "GMB dan Lokananta sudah menandatangani MOU (memorandum of understanding) untuk gerakan itu," kata Hengki.

Gerakan G-2000 adalah  pengumpulan donasi Rp 2 ribu sebagai biaya pembuatan satu sampul (cover) piringan hitam Lokananta yang terancam rusak. Total, GMB berupaya mengumpulkan Rp 40 juta untuk menyelamatkan 20 ribu piringan hitam Lokananta.

Penyaluran donasi tidak dalam bentuk tunai dan dilakukan bertahap. Tiap didapat Rp 2 juta langsung dipakai untuk membuat 1.000 sampul piringan hitam.

Dalam MOU juga disebutkan bahwa GMB resmi menjadi agen pemasaran dan distribusi produk-produk Lokananta untuk wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).

Terkait hal ini Pendi mengungkapkan bahwa jumlah agen pemasaran produk Lokananta terus berkurang dari kisaran 30-40 agen menjadi 10-15 agen, termasuk GMB. Agen-agen ini berada di Solo, Jawa Tengah selatan, Jawa Tengah utara, Surabaya, Kediri, dan Malang.

ABDI PURMONO

Berita Terpopuler:
Ada SBY, Tepuk Tangan Meriahnya untuk Jokowi
Ini Alasan Terdakwa Cebongan Mengakui Perbuatannya
Garuda Indonesia Maskapai Pertama dengan Wi-Fi
KPI: Sang Bos Manfaatkan TV untuk Berpolitik 
Ada Boneka Barbie Bertubuh Proporsional di Amerika 


10.20 | 0 komentar | Read More

Musik Konservasi Banteng Manggung di Malioboro

Written By Unknown on Rabu, 03 Juli 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Yogyakarta- Gitaris satu jari asal Surabaya, Doddy "Mr D" Hernanto, dan penyanyi pop kreatif, Sarah Fitria Andini, akan kampanye penyelamatan banteng Jawa, lewat musik. Sasaran lokasinya, kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta, Kamis 4 Juli 2013 ini.

Doddy, akan membuat lirik tentang konservasi banteng Jawa di atas andong. Selama proses rekaman, dia menggunakan gitar elektrik merek Rick Hanes yang dilengkapi gadget, produksi Sidoarjo, Jawa Timur. "Kami akan merekam musik bertema konservasi mengelilingi Malioboro," kata Doddy, di Kantor Biro Tempo Jateng-DIY, Selasa 2 Juli 2013.

Menurut dia, Malioboro dan Keraton dipilih, karena menjadi miniatur Yogyakarta. Keraton menjadi simbol masyarakat Jawa. "Saya ingin menggunakan simbol kebudayaan untuk menyelamatkan satwa liar. Harapannya, muncul kesadaran kolektif masyarakat," katanya.

Selain merekam musik, Doddy juga akan bermain musik bersama anak jalanan di sebuah rumah singgah. Duta Banteng Jawa, Forum Konservasi Satwa Liar ini, menyebutkan rekaman musik tidak harus di studio, dengan biaya mahal. "Saya ingin mengedukasi anak-anak jalanan supaya percaya diri," katanya.

Mantan keyboardis grup musik rock Boomerang ini, mengatakan banteng Jawa merupakan satu dari lima spesies banteng di dunia. Bos primigenius (Auroch), adalah satu dari lima spesies langka, yang dinyatakan punah.

Dengan begitu, jika tidak segera diselamatkan, banteng Jawa lambat laun punah. Populasi banteng Jawa di Taman Nasional Baluran Situbondo, saat ini tersisa 26 ekor. Padahal, pada 2012, populasi satwa di Hutan Baluran itu mencapai lebih dari 200 ekor. Populasi banteng Jawa yang menurun, juga terjadi di Taman Nasional Meru Betiri, Alas Purwo dan Ujung Kulon.

Populasi banteng Jawa menurun, karena pembukaan lahan oleh masyarakat sekitar hutan, dan persaingan dengan pemangsa Ajag (Cuon alpinus). Perburuan yang tidak terkontrol, kata dia, juga turut menyumbang penurunan populasi.

Kampanye penyelamatan satwa langka, pernah dilakukan sebelumnya. Doddy bersama Forum Konservasi Satwa Liar dan Taman Safari Indonesia,  mengelilingi 80 sekolah tingkat Menengah Pertama dan Atas di Indonesia.  "Musisi asal Surabaya akan kampanye bersama Wildlife Rescue Center Yogyakarta," kata Indra Harsaputra, Manager Program Forum Konservasi Satwa Liar.

SHINTA MAHARANI 


Topik Terhangat

Tarif Progresif KRL |Bursa Capres 2014 |Ribut Kabut Asap| PKS Didepak?

Berita terpopluer:
Cara Kepolisian Tutupi Kasus Upaya Suap Anggotanya
Petinggi Polisi Minta Kasus Suap Tidak Bocor
Luthfi Hasan Tuding KPK Ingin Hancurkan PKS
Bupati Rote Bantah Roy Suryo Marah-marah di Hotel
Stasiun UI Masih Gunakan Tiket Kertas
Polisi: Laporan Wartawati Korban Perkosaan Janggal


10.20 | 0 komentar | Read More

Sensasi Jazz pada Suhu Delapan Derajat Dieng

TEMPO.CO, Dieng - Lagu galau dengan judul "Jurang Kerinduan" tak membuat penonton di pelataran Kompleks Candi Arjuna beringsut. Justru, grup band asal Yogyakarta, Gelas Kaca, mampu membuat penonton pertunjukkan Jazz Atas Awan berjoget mengikuti irama. "Biasanya kalau sedang kedinginan saya reflek misuh-misuh, tapi kemarin harus ditahan demi kesopanan," kata Mutia Rizki, vokalis Gelas Kaca, kepada Tempo, Selasa 2 Juli 2013.

Mutia awalnya mengaku cukup kesulitan menyanyikan lagu jazz pada suhu delapan derajat celcius. Giginya bergemeretak  "trembling" menahan suhu dingin. Tenggorokan cepat kering. Namun, vokalis yang suaranya mirip Andien itu, sukses menstabilkan suaranya.

Bagi dara manis ini, hanya ada satu kata, keren. Menurut dia, konsep panggung yang menyatukan penonton dengan performer membuat suasana dingin Dieng jadi terasa hangat."Apalagi ketika penonton menyambut kami dengan antusias, it feels so great, love that moment more than anything," ujarnya. Ia berharap, pada gelaran tahun depan, panitia lebih banyak menyediakan anglo agar suasana semakin hangat.

Jazz Atas Awan merupakan ikhtiar masyarakat pariwisata Dieng untuk mengenalkan musik jazz bagi kaum sarungan, kaum akar rumput. Selama ini jazz dinilai hanya untuk kalangan berduit dan kelas atas. Jazz Atas Awan sendiri merupakan acara penutup rangkaian Dieng Culture Festival yang diselenggarakan 29-30 Juni 2013. "Dinamai Jazz Atas Awan, karena Dieng adalah kawasan pemukiman di ketinggian sekitar 2.350 mdpl. Ini negeri atas awan," kata Budhi Hermanto, penggagas gelaran jazz atas awan.

Dengan latar panggung Candi Arjuna yang disorot lampu warna-warni, jazz atas awan menemukan sisi romantisnya. Penonton yang sebagian besar warga Dieng pun terlihat menikmati betul sajian yang baru pertama kali mereka lihat itu. "Biasanya kami melihat lengger atau kuda lumping, baru kali ini saya melihat music jazz," kata Kabul Suwoto, warga Dieng Kulon yang mengajak anak istrinya.

Sayangnya, kata dia, venue pertunjukan jazz dengan candi sebagai altarnya sangat terbatas, sehingga penonton yang datang belakangan, terpaksa menonton dari belakang pertunjukan. Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, yang malam itu sengaja hadir untuk melihat pertunjukan jazz atas awan mengatakan, gelaran jazz atas awan ini menarik karena mendekatkan musik jazz pada rakyat, jazz bukan hanya domain bagi kelompok menengah. "Dalam jazz atas awan ini, musik jazz juga bisa dinikmati oleh masyarakat biasa. Jazz adalah musik rakyat. Bahkan bunyi tetesan hujan, halilintar, gemercik air di sungaai disekitar kita adalah juga jazz," katanya.

Ada 10 penampil dalam gelaran jazz atas awan. Mereka adalah Teleskeblues (Banjarnegara), Dawai The Ecthnicity (Bandung), Pandawa (Banjarnegara), Gelas Kaca (Yogyakarta), Nalaswara (Purwokerto), JFU Band (Semarang), SNF Band (Salatiga), Harmony (Purwokerto), Absurd Nation (Semarang), dan penampil special sebagai penutup gelaran adalah Band Jazz yang dimainkan oleh anak-anak SMAN 1 Banjarnegara.

Gelaran jazz atas awan dibuka oleh band pembuka asal Banjarnegara, Teleskeblues yang tampil dengan baik, dilanjutkan penampilan kelompok musik Dawai The Ecthnicity dari Bandung yang memainkan musik perpaduan gitar, bass, dan karinding (alat musik tradisional Sunda). Penampilan Dawai yang menyuguhkan musik instrumentalia ini sangat menghipnotis para penonton malam itu.

Penampilan band asal Dieng, Banjarnegara (Pandawa) tak kalah menarik. Dalam salah satu perfomance, Pandawa mengiringi Hadi Supeno melantunkan lagu "Juwita Malam".

Alunan musik yang sangat "jazzy" dipertunjukan oleh Nalaswara, JFU Band, Sekawan & Friends, dan Absurd Nation. Penampilan mereka sangat menghibur dan mendekatkan musik jazz yang biasanya dinikmati oleh kelompok menengah, menjadi musik yang bisa juga dinikmati oleh orang-orang yang berkerudung sarung, di Dataran Tinggi Dieng.

Semakin malam, penonton yang menyengaja untuk melihat pertunjukan jazz atas awan, semakin interaktif dengan pemusik yang tampil. Venue jazz yang direrumputan tanpa panggung, jarak penonton dengan pemusik hanya sejengkal.

Gelaran jazz atas awan ditutup oleh penampilan gorup band pelajar SMUN 1 Banjarnegara yang menyuguhkan lagu pop dengan irama jazz . Mereka mengaransmen lagu "Kita" (Sheila on Seven), "Cintaku" (Crisye) dan "Rumah kita" (God Bless) dalam balutan jazz yang menarik. Penonton bahkan akhirnya berdiri dan ikut bernyanyi bersama, sambil kedinginan tentunya.

ARIS ANDRIANTO


10.20 | 0 komentar | Read More

AMI Awards 2013 Siap Digelar Besok  

Written By Unknown on Selasa, 02 Juli 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2013 akan digelar esok, Selasa, 2 Juli 2013. Ajang musik bergengsi yang sudah masuk ke-16 ini menandai keberhasilan seorang musisi atau penyanyi di industri musik Indonesia.

Acara yang tayang secara langsung dari studio RCTI itu, tahun ini akan terbagi menjadi 49 kategori, mulai dari pop, rock, jazz, dangdut, keroncong, reggae, hingga rap. Ada juga tiga kategori bidang umum, yaitu Pendatang Baru Terbaik, Album Terbaik, dan Karya Produksi Terbaik.

Ada 20 orang dari kalangan musisi, pengamat musik, dan record label yang tergabung dalam tim kategorisasi bertugas memilah beragam entri musik yang terdaftar dalam kategori yang tepat.

Indra Utami Tamsir yang dikenal sebagai penyanyi keroncong langgam terkejut ketika namanya kembali masuk dalam nominasi. "Menyanyikan lagu keroncong merupakan panggilan jiwa saya dan ingin melestarikan budaya leluhur," katanya dari siaran pers, Minggu, 30 Juni 2013.

Karena masuk dalam nominasi untuk kedua kalinya, namanya disejajarkan dengan Waldjinah dan Sundari Soekotjo. ''Bu Waljinah mampu memperkenalkan keroncong hingga ke seluruh dunia. Namanya juga baik. Inilah yang membuat saya terpanggil untuk turut melestarikan keroncong ini,'' katanya.

Lagu Pengantin Agung telah menempatkan Utami ke dalam empat nominasi AMI Awards 2012 terbaik, yakni artis, lagu, pencipta lagu, dan penata musik. Sementara pada tahun ini, nama Utami kembali menghiasi daftar nominasi AMI Awards dengan album berjudul Nggayuh Katresnan.

Meski di jajaran nominasi kebanyakan anak muda, AMI membuktikan panggung AMI milik semua kalangan. Tantowi Yahya sebagai Ketua AMI, akan menerima dari kalangan serta musik apa pun di ajang musik bergengsi ini. "Anak baru, musisi dulu, keroncong, tradisional, semua diterima akan dipanggungkan," katanya.

Penyanyi jazz, Syaharani, yang sudah dua kali bergabung dalam tim kategorisasi mengatakan, kategori dalam AMI Awards memang beragam. "Kategori ini dinamis berubah setiap tahun, ke depannya memungkinkan ada ketegori baru," katanya.

Perhelatannya sendiri dalam tiga gelaran terpisah yaitu Malam Gala AMI Awards, Lifetime Achievement Awards, dan The Winner's Concert. Tantowi berharap, dalam penyelenggaraannya, AMI dapat lebih baik lagi dari tahun ke tahun.

ALIA
Berita Lain:
Selebritas Hollywood Sambut Pernikahan Sejenis
Eminem Akui Kecanduannya Pada Obat-obatan
Channing Tatum Menangis Saat Temani Istrinya Melahirkan


10.20 | 0 komentar | Read More

'Moga Bunda Disayang Allah' Bukan Film Religi  

TEMPO.CO , Jakarta - Soraya Intercine Film kembali akan segera merilis film terbarunya yang diangkat dari novel karya Tere Liye yang berjudul 'Moga Bunda Disayang Allah'. Film yang akan dirilis pada 2 Agustus 2013 mendatang ini dimainkan oleh Fedi Nuril, Shandy Aulia, Chantika Zahra, Alya Rohali, dan Donny Damara.

Film ini menyoroti bagaimana dalam kondisi depresi, Karang harus mengajari seorang anak buta, tuli, dan bisu. Selain itu menunjukkan bahwa anak yang lahir dalam kondisi serba kekurangan juga memiliki hak, termasuk untuk mengenal agama dan Tuhannya sendiri.

Sutradara, Jose Poernomo mengatakan bahwa film ini sebenarnya bukan film religi. Ini film yang lebih menekankan pada bagaimana keadilan Tuhan dipertanyakan oleh seseorang yang ada dalam kondisi apatis tapi bukan tidak percaya terhadap Tuhan. "Akhirnya bukan dia (Karang) yang mengajarkan anak ini, tapi anak ini yang mengajarkan pada Karang bahwa inilah kebesaran tuhan, inilah keadilan Tuhan. Tuhan berbicara dengan caranya sendiri kepada Karang," terang Jose saat ditemui di kantor Soraya Film, Senin 1 Juli 2013.

Film ini  bercerita tentang Karang (Fedi Nuril), seorang pemuda yang mencintai anak-anak. Tapi kecintaannya pada anak jadi berubah semenjak sebuah kecelakaan kapal laut terjadi dan Karang tidak dapat menyelamatkan anak-anak yang ikut pergi bersamanya. Karang merasa trauma dan dihantui rasa bersalah. Ia menjauh dari anak-anak dan memutuskan hubungannya dengan Kinarsih (Shandy Aulia) karena merasa dirinya tidak pantas untuknya. Ia pun mengasingkan diri di sebuah pulau yang jauh dari ibu kota dan selama tiga bulan ia menjadi seorang pemabuk.

Kehidupan Karang mulai berubah ketika Bunda HK (Alya Rohali), istri dari Tuan HK (Donny Damara) yang kaya raya dan dihormati di daerah tersebut datang dan memintanya untuk menjadi guru untuk Melati (Chantika Zahra).

Melati adalah anak perempuan mereka yang terlahir buta, tuli dan juga bisu. Melati tidak bisa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya. Berada dalam pengaruh alkohol, membuat cara mengajar Karang terhadap Melati sangat kasar. Ia suka berteriak dan memperlakukan Melati dengan semena-mena. Namun perlahan pada akhirnya Karang dapat kembali pada dirinya yang dulu semenjak ia mengenal Melati.

AISHA

Berita Lainnya:
Stasiun UI Masih Gunakan Tiket Kertas
Alasan Hanura Pilih Hary Tanoe Jadi Cawapres
Dinamit Hilang, Bareskrim Mabes Polri Turun Tangan
7 Vaksin yang Tidak Boleh Terlewatkan
Pemilihan Kades Tangerang , Kantor Camat Dirusak


10.20 | 0 komentar | Read More

Konser M Countdown Halo Indonesia Resmi Batal

Written By Unknown on Senin, 01 Juli 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Kabar menyedihkan untuk para pecinta Korean Pop atau Kpop di Indonesia. Sebuah konser besar bertajuk M Countdown Halo Indonesia, harus dibatalkan dan telah diumumkan secara langsung melalui akun resmi Big Daddy selaku promotor konser tersebut.

"We are very sorry to inform that M COUNTDOWN Halo - Indonesia will be cancelled," kicau Big Daddy lewat akun twitternya @Bigdaddyid, hari ini, Sabtu, 29 Juni 2013.

Penyebab batalnya konser yang rencananya akan digelar pada 3 Juli 2013 mendatang ini belum diketahui secara pasti. Big Daddy dalam akunnya hanya menuliskan bahwa akan segera merilis alasannya setelah mendapatkan pernyataan dari pihak penyelenggara di Korea Selatan. "Official statement will be released after we receive it from CJ E&M, the producer," kicaunya.

Selaku promotor, Big Daddy juga telah menyebutkan bagi semua pembelian tiket akan segera direfund. "Info refund akan menyusul. Mohon ditunggu. Mohon maaf yang sebesar2nya atas kejadian ini," tulis Big Daddy dalam akun resmi miliknya.

Konser M Countdown Halo Indonesia rencananya akan digelar di Mata Elang Internasional Stadium, Ancol, Jakarta dan menghadirkan 16 deretan artis, boyband dan girlband asal Korea Selatan. Sederat pengisi acara yang tadinya akan mengisi M Countdown Halo Indonesia adalah; Shinwha, 2PM, Beast, Secret, MBLAQ, Kim Jong Kook, B1A4, After School, 2NE1, 4 Minute, SISTAR, Roy Kim, Verbal Jint, VIXX, Eru dan TeenTop.

NANDA HADIYANTI


Topik Terhangat
Ribut Kabut Asap |PKS Didepak?| Persija vs Persib |Penyaluran BLSM |Eksekutor Cebongan 

Berita Lainnya:
Erick Thohir Segera Akuisisi 40 Persen Saham Inter
Ogbonna Selangkah Lagi ke Juventus
City Incar Top Skor Ketiga Liga Portugal
Blanc Antusias Melatih PSG


10.20 | 0 komentar | Read More

Antara Alien dan Masyarakat Urban

TEMPO.CO , Jakarta:Mereka berdiri berbanjar. Berbeda tapi sosoknya tetap perempuan. Di ujung kanan, seorang bersanggul, berpakaian penari Jawa lengkap dan selendang di pinggang. Di ujung kiri,  seorang perempuan berwujud alien. Keduanya mengapit seorang perempuan berpakaian kasual, ponsel menempel telinga, dan tas selempang tergantung di pundak. "Ini yang paling menggambarkan diri saya," Dina Lestari menjelaskan lukisan karyanya kepada Tempo, Ahad, 30 Juni 2013.

Lukisan itu diberi judul Metamorph. Satu dari karya Dina yang dipamerkan di Independent Art Space & Management Yogyakarta. Pameran tunggal bertema "Urbanterestrial" itu berlangsung selama tiga hari sejak 27 Juni 2013.  Dina menampilkan objek alien untuk menggambarkan keterasingan masyarakat urban.

Objek alien merupakan gambaran pribadi Dina. Kata alien bermakna terasing. Begitulah setidaknya kegelisahan Dina. Lahir dari pasangan orang tua dari Jawa, Dina lahir di Jakarta pada 1982. Ibunya berasal dari Yogyakarta. Bapaknya orang Solo. Namun Dina tak begitu mengenal bidaya leluhurnya itu. "Saya tak bisa bahasa Jawa," kata Dinakumis, nama sapaan perempuan ini.

Dina menganggap orang urban tak cuma kehilangan identitas budaya. Mereka terkadang justru membatasi pergaulannya melalui jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter. Generasi urban ini bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung. "Mereka kadang sengaja meng-alienasi dirinya sendiri," kata dia.

Gambaran ini ia tuangkan dalam bentuk lima alien yang berdiri dengan latar belakang lama Facebook. Lukisan di atas kanval berukuran 140x140 sentimeter itu dia beri judul Alienation Invasion.  

Dina tak melulu menggambar dengan makna kental semacam itu. Ia juga menampilkan karya satir. Seperti halnya bagaimana dia menggambarkan budaya yang mulai ditinggalkan masyarakat urban. Dina pun mewujudkannya dengan karya Te Las Dahar, parodi dari lukisan Leonardo Da Vinci, The Last Supper.

Te Las Dahar memperlihatkan sekelompok alien meriung di meja makan. Mereka makan bersama dengan aneka menu santapan. Dari nasi tumpeng, durian, hingga sekeranjang jamu. Menurut Kurator Pameran Angga Wijaya, karya itu tak sekadar gambar alien yang sedang makan bersama. Di dalamnya mengandung bahasa ungkapan fenomena tradisi makanan khas Indonesia yang dirasa asing oleh masyarakat saat ini.

Menurut Angga, perupa Indonesia tak banyak yang menjadikan alien sebagai objek karyanya. Dalam pameran itu, Dina mampu memadukan objek alien dengan tema yang diangkat, yakni keterasingan masyarakat urban. "Metaforanya tepat menggambarkan kondisi masyarakat saat ini," kata dia.

Dina dinilai berani menembus batasan bidang yang ditekuninya. Lulusan jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta pada 2008 itu kini mengambil jurusan Seni Lukis di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Tapi Dina berani mengambil jalur berbeda, seperti patung Corwn of Ambition dan Hybrid. Keduanya merupakan karya tiga dimensi Dina. "Ia sangat nekat," Angga menilai.

Kenekatan Dina tak sampai di situ. Dina menampilkan karya videografi We Come in Peace, rekaman gambar seseorang yang sedang mengucapkan kalimat "Kami datang dengan damai dan tak bermaksud menyakitimu". Tulisan dalam berbagai bahasa nusantara. Dari Aceh hingga Papua. Videografi itu menjadi upaya Dina menampilkan perbedaan suku dan budaya yang kadang terasa asing.  "Batasan bahasa kita adalah batasan dengan dunia lain," Dina menjelaskan.

Dia mencontohkan ketika seseorang mendengar orang lain berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti. Tak jarang, kita menyindir orang itu menggunakan bahasa planet lain: bahasa alien.

ANANG ZAKARIA


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger