Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Street Art Magelang Butuh Tempat Berkarya

Written By Unknown on Jumat, 28 Juni 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Magelang-Sekelompok remaja yang tergabung dalam komunitas Street Art Kota Magelang, minta dibuatkan media untuk berekspresi di ruang publik.

Salah satu anggota, Raka Adhityatama, mengatakan komunitasnya sering harus sembunyi-sembunyi ketika berkarya. Mereka menggunakan tembok di jalan untuk menuangkan ide. "Kami seringkali dikejar-kejar Satpol PP. Ini memang tidak benar, namun kami harus bagaimana," kata dia, Kamis 27 Juni 2013.

Komunitas street art, sering disebut kelompok vandalisme. Padahal, mereka berkarya untuk menyatakan keprihatinan akan situasi nasional saat ini. Raka mengatakan, mereka banyak mengangkat isu HAM, BBM, kesetaraan gender, dan lainnya.

Hingga saat ini, kata Raka, kelompoknya belum menemukan area yang pas untuk berkarya. Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada komunitasnya. Terlebih, jumlah anggota komunitasnya semakin banyak. Kini, mencapai puluhan, termuda berusia 19 tahun.

Untuk membuktikan karya kepada masyarakat, empat orang dari kelompok ini mengadakan pameran, bertajuk "Dopamime Attack Art Exhibition", di Rumahku Art Cafe, 29 Juni hingga 13 juli mendatang. Tema itu, menunjukkan bahwa anak muda bisa memberi motivasi kepada orang lain.

Salah satu peserta, Isnain Bahar Sasmoyo, mengatakan pameran itu sebagai salah satu cara, untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah kelompok vandalisme. "Kami bisa menampilkan karya yang positif, namun tidak bisa dinikmati masyarakat," katanya.

Dalam pameran itu, mereka menampilkan 40 karya, bercerita tentang anak muda yang memiliki gairah berkreativitas. Selain tembok, media yang digunakan, kanvas serta triplek.

Di Magelang, street art muncul sejak 2000-an. Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian atas pengembangan street art di Kota Magelang. Satu di antaranya, dengan menyediakan ruang khusus untuk berkreasi. "Street art menjadi cara kami berkarya. Ketimbang kami nakal, seni ini cukup efektif untuk mengungkapkan kesenangan kami," katanya. OLIVIA LEWI PRAMESTI


10.20 | 0 komentar | Read More

Enam Film Pendek Alternatif Tontonan Liburan

TEMPO.CO, Jakarta - Film pendek semakin mempunyai ruang dalam dunia perfilman nasional dan diperhitungkan dalam kompetisi film. Salah satunya adalah XXI Short Film Festival 2013 yag telah selesai pada Maret lalu dan film-film juaranya bakal ditayangkan pada 4 Juli mendaatng.

"Untuk film yang akan diputar di bioskop, kita lebih fokus kepada pemenang saja," ungkap Catherine Keng selaku perwakilan dari pihak Cinema 21. Selanjutnya, pihak XXI sudah berencana untuk mengadakan kembali festival ini tahun depan. "Pendaftaran akan dibuka akhir Agustus 2013 ini, dan festivalnya akan kembali digelar pada Maret 2014," ujar Catherine.

Untuk pemutaran film ini dipatok harga tiket sebesar Rp 15.000,00. Dengan harga tiket yang lebih murah dari tiket reguler diharapkan enam film pendek ini dapat menjadi salah satu alternatif tontonan di waktu libur saat ini.

Catherine menerangkan alasan mengapa pemutaran film pemenang ini baru dilakukan Juli, jeda yang cukup lama dari waktu pemutaran festival yang dilaksanakan pada Maret lalu. "Dari panitia kami juga ketika itu mencari pola, kalau terlalu dekat dengan festival semuanya akan coba lebih cari gratisnya. Kami yakin kalau film itu memang baik maka orang perlu bayar untuk memberikan apresiasi."

Berikut enam film pemenang penghargaan XXI Short Film Festival 2013.

1. Jadi jagoan Ala Ahok
Merupakan sebuah dokumenter yang dibuat pada masa Ahok sedang menjalani proses pencalonan sebagai calon anggota DPR RI. Disutradarai oleh Amelia Hapsari dan alm. Chandra Tanzil, film ini menyuguhkan bagaimana seorang Ahok berjuang, mencari dukungan dari warga Belitong ditengah pesimistis akan keberhasilannya karena masalah dana dan SARA. Film berdurasi 30 menit ini berupa film dokumenter bernuansa politik, namun dikemas dengan konsep komik sehingga siapapun tetap dapat menikmati pesan film yang demikian serius. Dalam XXI Short Film Festival 2013, film ini mendapatkan penghargaan sebagai film pendek dokumenter terbaik.

2. Keripik Sukun Mbok Darmi
Ini merupakan sebuah film animasi. Mengambil kisah humor dari satu majalah, Heri Kurniawan sang sutradara sukses mengemas dan mengonsep cerita dalam cita rasa Indonesia. Seorang Mbok Darmi harus mengalami tragedi yang bermula dari sebungkus keripik sukun yang dibelinya di stasiun. Selain itu film ini menjadi salah satu bukti bahwa animmasi Indonesia bisa bersaing dengan film animasi luar negeri. Film ini memperoleh penghargaan sebagai Film Pendek Animasi terbaik dalam XXI Short Film Festival 2013.

3. Honey, I'm Home
Ini film dokumenter yang sangat humanis. Menyorot sisi kehidupan seorang napi yang baru saja keluar dari penjara. Masa tahanan 7 bulan atas pasal 351 membuatnya memendam banyak hal terhadap keluarganya. Namun seperti apa sikap yang ditunjukkan anak istrinya saat ia pulang? Apa yang menyebabkan ia dipenjara dan kehidupan keluarganya menjadi sedemikian rupa? Dosy Omar, cukup pandai mengambil sisi-sisi emosi yang demikian natural dari keluarga Turisman. Film ini sukses memperoleh penghargaan sebagai Film Pendek Dokumenter Pilihan Media.

4. Moriendo
Satu lagi film animasi yang masuk dalam jajaran pemenang penghargaan. Sebagai pemenang Film Pendek Animasi Pilihan Media, Moriendo adalah film yang hanya memakan durasi 7 menit. Berkisah tentang seorang perempuan tua yang bertemu dengan kakek yang meperkenalkan dirinya sebagai kematian. Bahasa yang sangat puitis dan liris dalam film ini menguatkan penggambaran suasana yang cukup kelam dan penuh tanya. Andrey Pratama sang sutradara mengaku bahwa ia terinspirasi membuat film ini dari sebuah cerpen.

5. Wan-An
Dari enam buah film yang mendapatkan penghargaan, mungkin memang hanya film inilah yang menampilkan aktor sebagai tokoh utamanya. Cerita yang sederhana, menggelitik, namun bermakna dalam. Tentang sepasang suami istri lanjut usia yang mempertanyakan apa yang akan terjadi jika pada suatu pagi salah satu dari mereka mati? Film berdurasi 20 menit ini memberikan kejutan yang cukup tidak terduga. Film ini disutradarai oleh Yandy Laurens dan mendapatkan sekaligus tiga  penghargaan sebagai Film Pendek Fiksi terbaik, Film Pendek Fiksi Pilihan Media, dan Film Pendek Favorit.

6. Salah gaul
Kepedulian dan keprihatinan Abdul Razzaq dan Sahree Ramadhan terhadap masalah pergaulan antara anak alay dan bukan alay disorot cukup menarik dalam film ini. penonton bisa saja dibuat tertawa oleh komentar-komentar dan pendapat-pendapat yang dilontarkan mewakili berbagai kalangan di wilayah Surabaya. Menurut keduanya sesungguhnya film ini adalah film pemanasan yang mereka buat sebelum membuat film dengan tema serupa yang akan digarap lebih serius. Cukup dibuat dalam durasi 18 menit, tapi siapa sangka keisengan ini mampu membawa film mereka mendapatkan penghargaan Special Mention Film Pendek Dokumenter XXI Short Film Festival 2013.

AISHA
Terhangat:

Ribut Kabut Asap| PKS Didepak?| Persija vs Persib| Penyaluran BLSM| Eksekutor Cebongan

Baca Juga:
SBY dan Ronaldo Saling Follow di Twitter
Heboh Bayi Berkepala Dua di Majenang, Cilacap
Ilmuwan Temukan Tiga Planet Layak Huni
 Implan Payudara Wanita Pecah Saat Bermain iPhone  



10.20 | 0 komentar | Read More

NOAH Luncurkan Album Versi Karaoke

Written By Unknown on Kamis, 27 Juni 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah selesai konser dua benua dan lima negara, grup band NOAH meluncurkan DVD album terbaru Seperti Seharusnya (2012) dalam bentuk karaoke. Album versi karaoke ini sebagai bentuk interaksi yang lebih menarik dengan para penggemar NOAH.

Video dibuat dengan konsep latihan atau live performance dalam studio. "Ini ketiga kalinya buat album karaoke," ungkap Ariel di The Foundry 8, Rabu 26 Juni 2013. "Album ini dibuat untuk memuaskan keinginan fans yang suka menyanyi."

Ariel menceritakan beberapa alasan album berbentuk karaoke. Ia mendasarkan pada pengalaman langsung kelompok ini saat bertemu seorang penggemarnya di daerah. "Pernah ketemu sama seseorang dari daerah kecil yang bilang punya kaset Peterpan," kata Ariel. "Pas dilihat ternyata itu VCD karaoke dan bajakan."

Ariel sempat bertanya alasan penggemar itu membeli CD bajakan. Alasan sang penggemar, kata Ariel, "Kalau CD asli nggak ada gambarnya dan cd asli itu gak bisa nyanyi, kalau DVD karaoke ada gambar dan bisa sambil menyanyi."

Proses shooting video klip album ini dilakukan satu kali menggunakan kamera dalam jumlah yang cukup banyak. Video album karaoke menarik lantaran David sang keyboardist tidak ada dalam video klip. Saat pengambilan gambar David sesungguhnya hadir. Namun ia tidak dapat melanjutkan proses shooting karena kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih pasca operasi. "Waktu itu disuruh datang aja dulu, pas kejadian jatuh wah gak ngira kondisinya separah itu," kenang Ariel.

Akhirnya David dan personil NOAH pun harus saling merelakan proses shooting terus berlanjut tanpa keberadaan personil secara lengkap. Dalam album yang baru dirilis 26 Juni 2013 ini terdapat 10 buah lagu di antaranya Raja Negeriku, Jika Engkau, Separuh Aku, Hidup untukmu Mati Tanpamu, dan Ini Cinta.

AISHA

Topik terhangat:
Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Persija vs Persib | Penyaluran BLSM

Berita lainnya:
PKS: Dakwaan Luthfi Aneh dan Lucu
Mabes: Dua Polisi Tertangkap Bawa Rp 200 Juta
Polisi Tetapkan 9 Tersangka Pembakar Hutan
Lirik Nakal 'Rekening Gendut' Iwan Fals


10.20 | 0 komentar | Read More

Sapardi Djoko Damono, Sastra, Kata yang Meloncat  

TEMPO.CO, Makassar - Sastrawan dan budayawan Sapardi Djoko Damono menyatakan sastra tidak hanya berupa tulisan, bunyi, gambar, tulisan dan gambar atau komik, maupun gabungan dari ketiganya, yakni film. Sastra bisa meloncat-loncat seenaknya sendiri di layar komputer. "Sastra memang selalu berkembang," kata Sapardi di aula Profesor Mattulada FIB Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu, 26 Juni 2013.

Guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) ini membawakan kuliah umum bertajuk "My City My Literature". Kuliah umum ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013.

Sapardi pun menjelaskan maksudnya mengenai sastra yang bisa meloncat-loncat tersebut. Menurut Sapardi, teknologi canggih turut memberikan peluang bagi perkembangan sastra. Internet, misalnya, diakui Sapardi, anak muda sekarang bisa menyalurkan kreativitasnya berupa karya sastra melalui media ini. Hasilnya, lahir karya-karya baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sapardi mencontohkan novelis Fira Basuki. Buku Fira yang berjudul 140 Karakter merupakan kumpulan isi hatinya sendiri yang ia tulis di media sosial Twitter. Pada konteks lain, ada sebuah film yang lahir dari kumpulan lagu-lagu The Beatles. Inilah yang menjadi bukti dari kata 'meloncat-loncat' yang dimaksud Sarpadi. Sebuah buku bisa menjadi film, dan lainnya.

Adapun dongeng, yang juga salah satu karya sastra, dipertanyakan eksistensinya. Menurut Sapardi, dongeng atau cerita juga mesti berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab, cerita sastra yang tidak diubah akan ditinggalkan atau terkubur.

Sapardi menambahkan, tradisi adalah sebuah proses. Cara seseorang mempertahankan tradisi sastra adalah mengembangkan kreativitas. Bukan menjaganya tetap pada cerita awal diciptakan. Jika demikian, sama saja membunuh tradisi itu. "Yang tidak berubah-ubah itu yang mati saja, artinya masuk museum dan selesai," ujar Sapardi. Ia mencontohkan kisah Srikandi. Mulanya, sosok Srikandi adalah lelaki, namun di Jawa ia dikenal sebagai perempuan perkasa.

Film animasi buatan Amerika Serikat, Shrek, adalah kisah yang diadaptasi dari sebuah buku dongeng. Begitu pula dengan film Twilight yang berkisah tentang vampire. Sejak dulu vampire sudah ada, namun pembuat film meramunya menjadi sesuatu yang baru.

Sapardi mengatakan orang bisa menulis karena rajin membaca. Ia berpesan agar generasi muda tidak hanya menulis, tetapi tekun membaca. "Orang bisa ngomong karena bisa mendengar," kata dia.

Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pembacaan puisi berjudul "Pada Suatu Hari Nanti" karya Sapardi. Selain itu, ada Sinrilik, karya sastra lisan berupa monolog untuk menyampaikan petuah leluhur. Dilengkapi dengan kesok-kesok, alat musik seperti rebab Jawa, monolog disampaikan seperti bernyanyi. Menggunakan dua bahasa, yakni bahasa daerah Makassar dan bahasa Indonesia.

REZKI ALVIONITASARI

Topik terhangat:
Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Persija vs Persib | Penyaluran BLSM

Berita Lainnya:
Main Teater, Rio Dewanto Dimarahin Calon Mertua
Bayi Meninggal Setelah Ditolak 4 Rumah Sakit
NOAH Luncurkan Album Versi Karaoke
Kemenhut Ogah Beberkan Perusahaan Pembakar Hutan
SBY Terima Kunjungan Presiden Vietnam


10.20 | 0 komentar | Read More

Lirik Nakal 'Rekening Gendut' Iwan Fals  

Written By Unknown on Rabu, 26 Juni 2013 | 10.20

Iwan Fals bersama istrinya Rosana dan anaknya Raya saat meluncurkan album terbarunya berjudul RAYA di Roliing Stone Cafe, Jakarta, (25/6). Album ini merupakan album ketiga Iwan Fals yang menggunakan nama anaknya. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta -Bulan ini, Iwan Fals meluncurkan album barunya bertajuk Raya. Tajuk album diambil dari nama bungsunya, Raya Rambu Rabbani, 10 tahun. Ini adalah kali ketiga Iwan mencatut nama anaknya sebagai judul lagu maupun album. Sebelumnya, Iwan pernah membikin lagu berjudul Galang Rambu Anarki (nama sang sulung), dan album Cikal (dari nama putrinya, Annisa Cikal Rambu Bassae).

Album terbarunya berisi 18 lagu, yang sebagian di antaranya memuat kritik Iwan terhadap berbagai fenomena sosial. Dalam Raya, Iwan melontarkan dua lagu soal korupsi, yakni Bangsat dan Rekening Gendut. Kedua lagu itu memiliki kemarahan yang sama dengan Tikus-Tikus Kantor dan Politik Uang yang dibikinnya beberapa tahun lalu.

Liriknya, seperti biasa, nakal, usil, dan menyentil. Seperti penggalan lirik Rekening Gendut ini:

Rekening gendut yang bisa kentut.
Kebanyakan ngemil, daging rakyat dicuil-cuil.
Di koran-koran di televisi, lucu namanya nggak lucu akibatnya.
Rekening gendut kentut tak berbunyi, tapi baunya busuk sekali..

Saat ditanya ihwal kekritisannya yang tak terkikis usia, Iwan berujar dirinya sekadar berekspresi, melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Perkara liriknya dianggap kritis, ia tak mempersoalkan. "Saya sudah "dol", enggak tahu mana yang kritik, mana yang bukan," ujarnya.

ISMA SAVITRI

Topik Terhangat
PKS Didepak? | Persija vs Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Berita Terhangat
Hutan Terbakar, Malaysia Layangkan Nota Protes
Hutan Terbakar, Penjualan Retail Anjlok
Polisi Tetapkan 9 Tersangka Pembakar Hutan


10.20 | 0 komentar | Read More

Ratna Sarumpaet Kembali ke Pentas Teater

TEMPO.CO, Jakarta -Artis dan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet kembali ke panggung seni teater setelah absen selama tujuh tahun. Bersama kelompok teater Satu Merah Panggung, Ratna akan menyuguhkan cerita kompleksitas masalah bangsa Indonesia melalui naskah bertajuk Titik Terang: Sidang Rakyat Dimulai yang akan dipentaskan pada 3-6 Juli 2013 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

"Ini fokusnya tentang kemiskinan, kedaulatan rakyat , konstitusi yang diinjak-injak," katanya saat ditemui di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu, 25 Juni 2013.
"Ini penting dipentaskan karena rakyat harus berhenti menutup telinga."

"Karya saya memang enggak pernah nggak pakai penelitian," Dia menambahkan. "Karena seniman nggak boleh bohong. Titik terang ni penelitiannya seumur hidup, empirik dan data-data."

Seniman yang juga menulis naskah Marsinah Menggugat ini, dalam pementasan kali ini menggandeng aktor dan aktris ulung dalam dunia seni peran. Sebut saja putri mendiang W.S. Rendra, Maryam Supraba; Atiqah Hasiholan, Teuku Rifnu Wikana dan Rio Dewanto. Secara garis besar, naskah ini menceritakan kisah empat tokoh yakni Arman (Rio Dewanto), Arma (Maryam Supraba), Ria (Atiqah Hasiholan) dan Edo (Teuku Rifnu Wikana).

Arman digambarkan sebagai sosok aktivis muda yang memperjuangkan demokrasi dan gelisah atas persoalan bangsa. Ia menjalin cinta dengan perempuan bernama Arma, anak seorang pejabat korup. Sementara itu, Edo adalah mantan aktivis yang menjadi pejabat istana, resah atas keadaan di sekitarnya yang kacau. Di tengah pergumulan politis itu, ada sosok Ria, pelacur cantik yang memperjuangkan nasib rekan-rekannya dari tekanan sosial.

Para pemeran masing-masing memerankan tokoh sebagai sentral cerita, namun diakui Ratna masih memiliki benang merah yakni menuturkan pesan tentang kemiskinan. Sehingga ia pun mengaku tak segan menghadirkan cerita ini sebagai kritik kepada pemegang kuasa negara.

"Ini karya saya yang sangat keras," kata Aktivis gerakan Reformasi 1998 itu. "Tapi aku mau mengingatkan keras ini dalam konteks apa. Kalo menurut saya, Indonesia yang punya Presiden dari pertama sampai sekarang masih gini aja rakyatnya, ya perlu marah."

Naskah karya yang juga akan diproduksi dalam bentuk buku ini merupakan karya Ratna ke sebelas. Karyanya Marsinah Menggugat sempat dicekal dan pementasannya dibubarkan secara paksa. Meski demikian, pementasan kali ini Ratna tak peduli akan mendapatkan reaksi negatif dari pemerintah yang ia kritik. Justru Ratna punya misi mengundang pejabat istana.  "Saya mencoba melayangkan surat ke istana. Mungkin dia kangen," candanya.

NURUL MAHMUDAH

Topik Terhangat
PKS Didepak? | Persija vs Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Berita Terhangat
Hutan Terbakar, Malaysia Layangkan Nota Protes
Hutan Terbakar, Penjualan Retail Anjlok
Polisi Tetapkan 9 Tersangka Pembakar Hutan


10.20 | 0 komentar | Read More

Pameran Keramik Karya Mahasiswa

Written By Unknown on Selasa, 25 Juni 2013 | 10.20

TEMPO.CO , Surabaya:Sejumlah karya keramik dengan ragam bentuk dan rupa tertata rapi di atas 'meja saji' di Galeri Merah Putih, Surabaya, Senin, 24 Juni 2013. Sejumlah bola lampu yang dipasang di sekeliling dinding menyinari redup ruang pameran. Belasan keramik itu merupakan karya seni buatan mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW). Pameran bertajuk "Rakuti Caramos 1" itu mulai digelar sejak Minggu malam, 23 Juni 2013 hingga Sabtu, 29 Juni 2013 mendatang.

 "Pameran ini lebih menekankan pada proses penciptaan karya. Konsep dipikirkan belakangan," kata Sri 'Kethek'Sefry, salah satu mahasiswa jurusan Seni Rupa STKW kepada Tempo. Pameran ini merupakan karya kelompok dan lebih 'memperbincangkan' konsep seni untuk seni ketika menghadirkannya ke ruang publik. "Ketika berbicara konsep, maka itu dikembalikan ke masing-masing penciptanya," kata Sri. 

Menurut mahasiswa asal Tuban ini, dalam menciptakan karya mahasiswa tidak begitu memikirkan perencanaan yang pelik laiknya perupa-perupa handal dan profesional.  "Yang penting berkarya dulu dan mengadakan pameran. Untuk konsepnya baru dipikirkan belakangan," katanya.

Sejumlah mahasiswa yang mengikuti pameran ini telah menempuh mata kuliah wajib yakni Keramik I dan Keramik II. Setelah menempuh mata kuliah tersebut, masing-masing mahasiswa diwajibkan membuat sebuah karya untuk kemudian dipamerkan bersama-sama. "Intinya, ini karya keramik mahasiswa yang telah memperoleh dasar ilmu keramik," kata Sri. 

Tanah liat sebagai bahan membuat keramik  diperoleh mahasiswa dari Karangpilang. "Satu truk engkel tanah liat itu seharga Rp 350 ribu," katanya.

Sesuai dengan ilmu yang diperoleh selama menempuh kuliah keramik, setiap detail tahapan harus dilalui untuk membuat karya keramik itu. Diawali dari pengambilan serta pemilihan bahan tanah liat untuk kemudian diperam, disaring, diendapkan hingga diolah. Kemudian menentukan teknik membentuk keramik tersebut mulai dari pincing, pilin, slab, putar, kombinasi bahkan eksperimentatif. "Chemistry terbentuk sejak diawal-awal tahapan setelah sebelumnya berulang-ulang membuat keramik," katanya. 

Bagaimana membuat campuran, serta pilihan teknik menjadi otonomi masing-masing mahasiswa? "Ketika dibakar pecah, berarti ada yang salah dalam pengolahannya," kata dia. Dibutuhkan kesabaran lebih, kata Sri, dalam membuat karya keramik ini. Dia mencontohkan, membuat keramik membutuhkan waktu hingga sehari lebih. "Yang paling lama dalam proses pembuatan keramik ini adalah menunggu," katanya. 

Ketika menggunakan teknik menyambung, maka faktor kelembaban tanah harus selalu diperhatikan. "Memang harus sering mencoba dan berbuat salah," katanya. Dia sempat menirukan pernyataan Hari Prajitno, dosen seni rupa STKW, tentang membuat karya keramik. 

"Bagaimana membuat karya keramik seperti menjalani hidup ini." kata Sri. Bagaimana memililih bahan, kemudian mengolah dan membentuknya untuk kemudian dibakar. "Ketika pecah, berari ada yang salah dan mulai lagi dari nol," katanya.

Ketika keramik sudah matang atau jadi artinya setelah melalui pembakaran pertama, untuk membuat lebih baik lagi harus digelasir di dibakar lagi. "Sama seperti menjalani hidup dengan berbagai permasalahannya," kata Sri menirukan dosennya.

DAVID PRIYASIDHARTA
Topik terhangat:
Ridwan Kamil
| Razia Bobotoh Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Berita lainnya:
Hitung Cepat, Ridwan Kamil Jadi Wali Kota Bandung
Menang Pilkada Bandung, PKS: Masih Dipercaya Warga
Ini Sikap Persib Soal Penyerangan Bus Mereka
Farhat Abbas Kicau Foto Cium Bastian Coboy Junior


10.20 | 0 komentar | Read More

Makassar International Writers Festival Dibuka

TEMPO.CO, Makassar - Makassar International Writers Festival 2013, dibuka hari ini. Festival yang sudah berlangsung untuk ketiga kalinya ini menghadirkan penulis dari dalam dan luar negeri. Juga diputar sejumlah film dokumenter tentang sastra dan sejarah. Acara yang sebagian besar berlangsung di Fort Roterdam ini akan ditutup pada Sabtu malam mendatang (29 Juni).

Di antara sastrawan yang hadir dalam acara ini adalah Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Dewi Lestari, Peter Zilahy, dan lain sebagainya. Juga ada penulis buku-buku perjalanan Agustinus Wibowo yang hari ini akan membahas soal hubungan antara puisi dan fotografi.

Dalam pembukaan malam nanti, akan diputar film dokumenter sepanjang 15 menit tentang sastrawan Pujangga Baru asal Sulawesi Selatan, AM Dg Myala alias A.M. Thahir. Film ini dimulai dari riset mendalam yang dilakukan oleh Arfan Sabran (Aslan) dan Krishna Pabichara. Hasil riset mereka kemudian difilmkan oleh Yandy Lauren.

Menurut Lily Farid, ketua penyelenggara, MIWF 2013 akan banyak mengangkat komunitas sastra dan geliat kegiatan sastra di Indonesia bagian Timur.

Qaris Tajudin, Irmawati

Topik Terhangat
Razia Bobotoh Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Berita Terpopuler
Persib vs Persija Batal, Bobotoh Blokir Pintu Tol
Basuki: Jakarta Bukan Hanya untuk Orang Kaya
Macet 'Gila' di Perayaan Ulang Tahun Jakarta


10.20 | 0 komentar | Read More

Meriahnya Musik di Pesta Media

Written By Unknown on Senin, 24 Juni 2013 | 10.21

(dari kiri) Gitaris group musik Padi Satriyo Yudi Wahono (Piyu), Inna Kamarie, dan Once tampil dalam konser musik "Harmony of Padi" di Graha Cakra Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (2/10) malam. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO , Jakarta:Di tengah hiruk pikuk ramainya perayaan ulang tahun kota DKI Jakarta yang diselenggarakan di beberapa titik, Aliansi Jurnalis Independen menggelar acara tahunannya, Pesta Media. Acara yang berlangsung pada hari pertama, Sabtu 22 Juni 2013 ditutup dengan menghadirkan tiga pemusik yang membawakan warna musik yang berbeda. Inna Kamarie, Tika and Dissindents, dan Payung Teduh menawarkan hiburan lain di sela banyak acara hiburan yang berlangsung di banyak titik Jakarta semalam.

Inna Kamarie, penyanyi yang memulai karir bermusiknya bersama kelompok vokal Dewi-Dewi, hadir dengan bernyanyi solo di jalur jazz. Diiringi Bebenz Jazz, Inna membawakan beberapa buah lagu seperti Fly Me To the Moon, Someone Like You, Diamond, hingga lagu Gerimis-nya alm. Benyamin S. Disela-sela acara Ina menghibur penonton dengan gayanya yang centil. "Saya sudah berhijab, tapi masih wild," tuturnya sembari mengangkat kedua tangannya yang dibalut dengan gaun merah menyala.

Menyusul Inna, Tika and Dissidents tampil dengan warna musiknya yang lebih tinggi beatnya. Lagu-lagu yang dibawakan Tika sarat akan pesan-pesan sosial. Isu LGBT, industri kecantikan, hingga Mayday merupakan tema-tema yang dibawa dalam lirik-lirik yang dinyanyikan oleh Tika. Setelah menyanyikan lagu pertamanya Tika mengungkapkan bahwa dirinya agak kurang sreg dengan set panggung yang disediakan. Merasa ada jarak antara ia dengan penonton, akhirnya Tika Mengajak para penonton untuk berdiri mendekati panggung. "Ayo semuanya mending maju, berdiri, nggak usah duduk kayak di prasmanan," sahutnya. Sontak penonton yang tadinya duduk langsung berhambur mendekati panggung.

Sebagai penutup, Payung Teduh hadir dengan membawakan lebih dari lima lagu. Tanpa diminta penonton langsung berdiri mendekati panggung dan akhirnya duduk lesehan di muka panggung karena sebelumnya penonton yang duduk di belakang tidak dapat melihat aksi Mohammad Istiqomah Djamad (Is), Comi Aziz Kariko (Comi), Ivan Penwyn (Ivan), dan Alejandro Saksakame (Cito).

Lain lagi dengan dua musisi sebelumnya, Payung Teduh hadir dengan membawakan lagu-lagu bernuansa folks dengan lirik-lirik yang kerap menyentuh hati seperti Pujaan Hati, resah, Kucari Kamu, Cerita Tentang Gunung dan Laut, Perempuan Dalam pelukan, Menuju Senja. Kelompok musik yang mendapatkan penghargaan Album Terbaik 2012 versi Majalah Tempo dan Best New Comer ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Award) 2012 ini sukses menutup acara dengan nuansa yang tenang sebelum penonton pulang disambut kemacetan karena perayaan ulang tahun kota Jakarta Sabtu malam.

AISHA
Topik Terhangat
Razia Bobotoh Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Berita Terpopuler
Persib vs Persija Batal, Bobotoh Blokir Pintu Tol
Basuki: Jakarta Bukan Hanya untuk Orang Kaya 
Macet 'Gila' di Perayaan Ulang Tahun Jakarta  


10.21 | 0 komentar | Read More

Trailer Film Steve Jobs Beredar di Youtube

Grafis Terkait

Kalori dan Lemak dalam Kudapan Bioskop

Kalori dan Lemak dalam Kudapan Bioskop

Foto Terkait

Keindahan Danau Singkarak di Sumatra Barat

Keindahan Danau Singkarak di Sumatra Barat

Video Terkait

Hendrick Gozali : Nilai Sempurna Untuk Film Finding Srimulat

Hendrick Gozali : Nilai Sempurna Untuk Film Finding Srimulat

Topik

  • #Film
  • #Steve Jobs
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO , Jakarta:Film biopic Jobs akan mulai tayang pada 16 Agustus 2013. Film yang dibintangi Ashton Kutcher ini mengangkat bagian dari perjalanan hidup penemu Apple.Corp, Steve Jobs dari tahun 1971 sampai 2011.

Film Jobs sendiri sudah diperkenalkan ke publik di Sundance Film Festival, Jumat, 25 Januari 2013. Film ini dibuat 15 bulan setelah meninggalnya Jobs . Semula film ini hendak diluncurkan 19 April 2013.

Rencana itu ditunda oleh studio film Open Road lantaran alasan tak ada waktu cukup untuk memasarkannya. Di Youtube, cuplikan film Jobs sudah diunggah sejak 21 Juni 2013. Hanya dalam dua hari, trailer sudah ditonton hampir 1,5 juta kali.

"We've got to make the small things unforgettable," begitu kata Kutcher sebagai Jobs dengan lagu latar Can't Hold Us dalam trailer tersebut.  Jobs kemudian memecat seseorang.

Film ini berdurasi 125 menit dan ditulis oleh Matt Whiteley. Film diproduksi oleh Mark Hulme dan Marcos dengan sutradar Joshua Michael Stern.

Steven Paul Jobs bagi sebagian orang dianggap sebagai inovator besar di dunia teknologi. Jobs lahir 24 Februari 1955. Ia meninggal 5 Oktober 2011 meninggalkan perusahaan dan nama besar Apple Corp. Namun banyak orang meragukan film Jobs bisa menggambarkan kebesaran Jobs.

YOUTUBE | PWT

Topik Terhangat
Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM | Ribut Kabut Asap | Koalisi dan PKS

Berita Terpopuler
Persib vs Persija Batal, Bobotoh Blokir Pintu Tol
Basuki: Jakarta Bukan Hanya untuk Orang Kaya 
Macet 'Gila' di Perayaan Ulang Tahun Jakarta


10.21 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger