Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Chicco Jerikho,Tetap Tampan Tanpa Bedak

Written By Unknown on Kamis, 11 April 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Chicco Jerikho yakin dia tetap tampan meski tanpa rias wajah. Itu kenapa pacar Laudya Cynthia Bella ini menolak dibedaki ketika akan tampil di panggung catwalk yang membawakan pakaian karya perancang ternama, April lalu.

Meski dibujuk dengan aneka rayuan, model 28 tahun ini tetap tegas menolak. Dia  tetap percaya diri dengan wajah cokelat dan sedikit berminyak, meski tanpa sapuan bedak sedikit pun.

"Saya memang tidak pernah mau memakai bedak," kata lelaki yang memiliki darah Thailand dari sang ayah, Chana Jarumillind, itu. Kebiasaan ini juga berlaku pada saat dia membintangi sinetron. Bagi Chicco, bedak justru bisa membuat wajahnya gampang berjerawat karena kulitnya tergolong sensitif.

Sebagai pengganti bedak, dia memilih cara lain. "Saya lebih baik mengolesi wajah dengan es batu supaya segar setiap kali syuting atau show," kata aktor yang pernah membintangi sinetron Cinta Bunga 1 dan 2, Putri Nabila, dan film In The Name of Love itu.

Lagi pula, menurutnya, memakai bedak bukan satu-satunya cara agar wajah kelihatan kinclong. "Kamera sekarang kan juga sudah canggih, bisa mengatur pencahayaan untuk wajah," katanya.

EVIETA FADJAR


Topik terhangat:
Partai Demokrat | Agus Martowardojo | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo | Nasib Anas

Berita Terpopuler:
Kronologi Penangkapan Penyidik Pajak Pargono 
Keluarga Sopir Juke Maut Siap Adopsi Anak Korban
Suap Pegawai Pajak, KPK Tangkap Satu Orang Lagi
Waspada 5 Penyebab Tekanan Darah Rendah
Pembalap Asep Hendro Pekerjakan Pemuda Garut 


10.20 | 0 komentar | Read More

Wajah-wajah yang Bercerita

TEMPO.CO, Makassar-Sudah tiga tahun ini Suriadi Mappangara, 56 tahun, merekonstruksi wajah raja-raja dan bangsawan Bugis-Makassar. Puluhan sketsa wajah hasil karyanya ditempatkan di ruangan sempit berukuran 2 x 5 meter. Ada yang dibingkai lalu digantung, ada juga yang masih dalam buku gambar.

Sebenarnya, ada 100-an wajah yang sudah direkonstruksi ulang oleh dosen jurusan ilmu sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin ini, dari wajah raja-raja Kerajaan Gowa-Tallo, Bone, Soppeng, hingga Luwu, termasuk tokoh bangsawan Bugis-Makassar. Sebut saja Sawerigading, raja pertama Kerajaan Luwu; Tumanurung, Raja Bone 1330-1370; Karaeng Patingalloang; dan Colli' Pujie.

Impian Suriadi sebenarnya sangat sederhana. Ia merekonstruksi wajah para pembesar dari tanah Sulawesi ini agar pelajaran mengenai masa lalu tidak hanya disajikan dalam bentuk tulisan, tapi juga dalam bentuk grafis. "Adanya bantuan grafis akan lebih memudahkan orang untuk belajar sejarah karena selama ini banyak yang mengeluhkan tidak enak belajar sejarah tanpa gambar," katanya saat ditemui di kampus Unhas Tamalanrea, Kamis lalu.

Ya, Suriadi ingin mengenalkan sejarah masa lalu melalui sketsa wajah-wajah ini. Metode sketsa rekonstruksi wajah biasa digunakan oleh kepolisian untuk mengenali wajah pelaku kejahatan. Polisi menggunakan sumber yang melihat secara langsung wajah orang yang dimaksud.

Namun sketsa yang dibuat oleh Suriadi tidak sesederhana itu. Inspirasinya bukan dari kesaksian orang yang melihat atau mengenal, melainkan dari teks-teks masa lampau yang dipelajari selama bertahun-tahun, dari kitab lontara hingga teks-teks lain yang menceritakan karakter yang akan dibuat.

Dalam merekonstruksi wajah, menurut Suriadi, harus ada ciri kuat dari setiap karakter yang hendak digambar. Meski tidak bisa menjamin tidak adanya bias dalam hasil karyanya, Suriadi menjamin bias tersebut bisa diminimalisasi karena dikerjakan oleh sejarawan yang memiliki dasar kuat melalui penelitian yang mendalam.

Meski telah melakukan penelitian secara mendalam, Suriadi kerap dicibir. Banyak pihak yang mengatakan gambar yang dibuat Suriadi tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak ilmiah. "Bisa saja teks-teks yang saya gunakan itu bohong, kata mereka," ucapnya.

Selain gambar wajah, Suriadi merekam kejadian-kejadian penting dalam bentuk sketsa, di antaranya gambar Tunipalangga (Raja Gowa II) sedang jatuh sakit saat berperang di Bone sehingga diangkut pulang. Ada pula gambar 10 ribu warga Bone yang dipesan oleh Karaeng Karunrung untuk membangun parit di Gowa.

Dalam mengerjakan sketsa wajah tersebut, Suriadi tidak bekerja sendiri. Sang istri, Nahdiyah, dan seorang lainnya ikut dalam pengerjaan sketsa wajah tersebut. Orang itulah yang bertugas menggambar, sedangkan Suriadi beserta istrinya bertugas mempersiapkan riset dan data sebagai bahan acuan untuk menggambar sketsa wajah yang hendak digambar.

Pengerjaan sebuah sketsa wajah tak terlalu lama. Suriadi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk mencari dan mengumpulkan bahannya. Lalu, untuk menggambarnya, hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Menurut Suriadi, yang memberatkan hanya biaya yang harus dikeluarkan, yakni sekitar Rp 500 ribu per gambar. Semua biaya tersebut ditanggulangi Suriadi sendiri, tanpa bantuan pihak lain.

Usaha Suriadi dalam membuat sketsa yang bercerita tentang sejarah ini tak sia-sia. Dosen ilmu sejarah dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Noordin Husain, datang langsung ke Makassar untuk melakukan studi banding dan melihat langsung apa yang dikerjakan Suriadi. Menurut dia, hal tersebut merupakan sesuatu yang baru dalam mempelajari sejarah.

Untuk melihat langsung karya-karya sketsa wajah para pelaku masa lalu, Anda bisa mengunjungi langsung laboratorium Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin atau bisa juga mengunjungi situsnya di http://www.laboratoriumsejarah.com/.

HIMAS PUSPITO PUTRA


10.20 | 0 komentar | Read More

Peringatan Seabad Pelukis S.Sudjojono Digelar  

Written By Unknown on Rabu, 10 April 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - S. Soedjojono Center akan merayakan seabad maestro seni rupa Indonesia S. Sudjojno pada Desember nanti. Perayaan ulang tahun ini akan digelar meriah dengan berbagai agenda dan puncaknya dengan pameran lukisan pelukis ini. 

Pelukis Sudjojono lahir Mei 1913 di Kisaran, Sumatera Utara. Dia meninggal pada usia 85 tahun.  Tahun ini merupakan tahun ke-100 peringatan ulang tahun pelukis ini. Perayaan 100 tahun Soedjojono dimulai dengan diskusi tentang lukisan besar S. Soedjojono yang dipasang di Museum Sejarah yang bertajuk Mahakarya S. Sudjojono "Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen" Abadikan atau Lupakan.

"Kami ingin fokus mulai dari karya puncak bapak, lukisan Sultan Agung yang cukup besar ini," ujar Maya Sudjojono, anak S. Sudjojono sekaligus wakil S. Sudjojono Center, dalam konferensi pers di Museum Sejarah, Selasa, 9 April 2013.

Lukisan ini memang cukup besar ukurannya, yaitu 3 x 10 meter dipajang di ruang Sultan Agung. Lukisan ini dibuat pada 1973-1974 sebagai bagian peresmian dibukanya Museum Sejarah Jakarta pada 1974. Lukisan tersebut merupakan pesanan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin.

Setelah diskusi tentang lukisan tersebut, serangkaian acara juga sudah diagendakan di berbagai tempat. Pada Mei-September nanti akan diadakan pameran lukisan S. Sudjojono di Museum Topeng Ubud-Bali, pertunjukan seni di Museum Nasional, program seni untuk anak dan remaja, pameran lukisan dan konferensi di di Nanyang Technological University, Singapura, dan puncaknya pameran lukisan maestro ini di Museum Nasional Desember nanti.

Pameran lukisan ini dimaksudkan untuk mengenalkan pelukis S. Sudjojono kepada khalayak yang lebih luas, "Untuk memberi gambaran Sudjojono sebagai tokoh penting seni Indonesia," ujar Santy Saptari, kurator Seabad S. Sudjojono.

DIAN YULIASTUTI


Topik terhangat:
Partai Demokrat | Agus Martowardojo | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo | Nasib Anas

Berita lainnya:
3 Fakta Kapolda DIY Kontak Pangdam Sebelum Insiden 
SBY: SMS Saya ke Anas Tidak Dibalas 
Kisah Penjaga Mayat yang Memandikan Nurdin M Top
SBY Sudah Menduga Penyerang Cebongan Kopassus 
SBY: Kami Menyayangi Anas Urbaningrum 
Agustus, SBY Bakal Ganti Kapolri dan Panglima TNI


10.20 | 0 komentar | Read More

Jazz Gunung 2013 Digelar Juni di Probolinggo

TEMPO.CO, Surabaya- Pagelaran musik Jazz Gunung 2013 akan digelar pada Juni mendatang. Pagelaran jazz yang masuk dalam agenda jazz nasional setiap tahun ini digelar di Java Banana Lodge Cafe dan Galeri, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, Jumat dan Sabtu, 21 - 22 Juni 2013.

Asisten Manager Operasional Java Banana Lodge Cafe dan Galeri, Achmad Bambang Nugroho kepada Tempo mengatakan, waktu dan tempat digelarnya pagelaran jazz gunung ini sudah pasti. "Kegiatannya hampir berbarengan dengan kegiatan Pesta Rakyat Bromo," kata Bambang yang akrab disapa Banu ini saat dihubungi Tempo, Selasa sore, 9 April 2013. Banu mengatakan, pada hari pelaksanaan even jazz tahunan ini digelar, kamar hotel di Java Banana sudah habis dipesan.

Banu mengatakan, sejumlah agenda lengkap kegiatan Pesta Raya Bromo ini bisa dilihat di situs www.pestarayabromo.com. Kegiatan dalam Pesta Raya Bromo ini antara lain Seni Rakyat, Kuliner, JIP, Sepeda Gunung dan Pameran Seni. sejumlah kegiatan ini digelar mulai 14-23 Juni 2013 di sejumlah tempat di kawasan wisata Bromo yakni Lautan Pasir, Pendopo Kabupaten Probolinggo, Jalan Protokol Kota Probolinggo dan Java Banana Bromo Lodge, Cafe & Gallery.

Sejumlah kegiatan tersebut, kata Banu, digelar oleh Jazz Gunung Indonesia dan didukung Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Pemerintah Kota Probolinggo. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Djamaludin mengatakan, kegiatan Jazz Gunung 2013 dan Pesta Raya Bromo ini digelar tepat pada saat high season. "Pada Juni dan Juli ini mulai banyak turis yang berkunjung ke Bromo. Puncaknya pada Agustus dan September," katanya.

Menurut Digdoyo yang biasa disapa Yoyo ini, pada bulan-bulan itu, 90 persen kamar hotel di kawasan Bromo akan habis dipesan. "Saat ini saja untuk 21 - 22 Juni 2013, sudah 50 persen yang dipesan," katanya. Informasi yang dihimpun Tempo, Jazz Gunung 2013 pada Juni mendatang itu masuk tahun kelima penyelenggaraannya di Gunung Bromo sejak digelar pertama kalinya pada 2009.

DAVID PRIYASIDHARTA

Topik terhangat:
Penguasa Demokrat | Agus Martowardojo | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo | Nasib Anas

Berita Tempo
Margaret Thatcher, PM Wanita Pertama Inggris Wafat
Pagi Ini Andi Mallarangeng Siap Buka-bukaan
Mantan Pangdam IV: Komnas HAM Jangan Didengar


10.20 | 0 komentar | Read More

Ada Band Mengubah Aliran Musik?

Written By Unknown on Selasa, 09 April 2013 | 10.20

TEMPO.CO, Jakarta - Ada Band merilis sebuah lagu baru yang keluar dari karakter romantik band. Kalau biasanya band beranggotakan Donnie, Dika, Marshall dan Adhi ini membawakan lagu-lagu cinta yang mellow, kali ini mereka memberikan sentuhan dance pada lagu baru mereka.

"Single pertama yang dikeluarin ingin menyuguhkan sesuatu yang beda tanpa meninggalkan ciri khas Ada Band," kata Dika, salah satu personil Ada Band saat launching album di Texas Chicken, Cikini, Jakarta, Senin 8 April 2013. Single Tersebut diberi judul Intim Berdua.

Donnie sang vokali yang membuat lirik Intim Berdua, sedangkan Dika yang membuat musiknya. Mereka membuat lagu tersebut catchy agar mudah diingat oleh pendengar, hal tersebut yang selalu dipertahankan oleh Ada Band.

Lagu Intim Berdua dibuat dengan irama dance dikemas dengan dance juga. Menjadi suatu pembeda dari lagu-lagu mereka sebelumnya. "Mungkin ini wujud suatu tantangan buat kita," kata Dika menjelaskan.

Lagu ini bercerita tentang pasangan yang bersiap menyambut malam minggu. Dengan lagu ini Ada Band berharap akan menjadi lebih intim dengan Armada, Fans Ada Band.

NANDA HADIYANTI

Topik terhangat:
Partai Demokrat | Agus Martowardojo | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo | Nasib Anas

Berita terpopuler lainnya:
3 Fakta Kapolda DIY Kontak Pangdam Sebelum Insiden 
SBY: SMS Saya ke Anas Tidak Dibalas 
Kisah Penjaga Mayat yang Memandikan Nurdin M Top
SBY Sudah Menduga Penyerang Cebongan Kopassus 
SBY: Kami Menyayangi Anas Urbaningrum 
Agustus, SBY Bakal Ganti Kapolri dan Panglima TNI


10.20 | 0 komentar | Read More

Titi Rajo Bintang: Diving Seperti di Dunia Lain

TEMPO.CO, Jakarta - Berawal dari tuntutan perannya di film Mursala, Titi Rajo Bintang jadi cinta olahraga diving. "Aku jadi belajar diving, jadi cinta diving," kata Titi saat konferensi pers, di Plaza Senayan, Jakarta, Senin, 8 April 2013. Pada film Mursala yang dibesut Viva Westi itu, Titi Rajo Bintang berperan sebagai Uli, seorang gadis kelahiran Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Salah satu tuntutan dalam film itu, Titi harus bisa diving. Titi merasakan sensasi tersendiri saat berada di dalam laut. "Pas diving kayak berada di dunia lain. Tiba-tiba bisa deket banget sama ikan," Titi menjelaskan. Dengan mencoba diving membangun kesadaran dirinya mengagumi keindahan dasar laut. Titi mulai mencintai binatang laut.

Meski ingin diving rutin, Titi terkadang kesulitan mengatur waktu. Sejauh ini ia telah mencoba diving di beberapa tempat seperti Bali, Pulau Pramuka, dan Manado. Ia berencana pergi ke Raja Ampat sebagai surganya para diver.

"Raja Ampat katanya paling indah jadi aku simpen-simpen dulu deh," katanya. Titi telah memiliki pengalaman tersendiri saat diving di pulau dewata, Bali. Di dasar laut tempatnya menyelam terdapat sebuah bangkai kapal yang tenggelam sekitar tahun 1940-an. Meski menyeramkan, buat Titi tempat tersebut sangat menarik. (Baca : Menikmati Bangkai Kapal USAT Liberty)

Dengan diving, Titi tidak hanya bias mengenal biota dan keindahan laut. Menurutnya, dengan diving juga dapat membantu menenangkan. Ia pun menyarankan buat yang ingin menenangkan diri bias mencoba diving. "Bikin rileks, tenang," katanya. (Baca: Diving di Teluk Buyat)

NANDA HADIYANTI

Baca juga
Video Polisi Bali Terpopuler YouTube Pekan Ini
KPK Periksa Andi Mallarangeng Hari Ini
Bahan Kimia Daging Merah Picu Penyakit Jantung
Jantung Pun Bisa Mengendus Aroma

Topik terhangat:

Penguasa Demokrat | Agus Martowardojo | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo | Nasib Anas


10.20 | 0 komentar | Read More

Film Meretas Masa Depan Hutan Jawa Diluncurkan

Written By Unknown on Senin, 08 April 2013 | 10.20

Senin, 08 April 2013 | 04:01 WIB

TEMPO.CO, Purwokerto--Cinema Lovers Community dan Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Masyarakat Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa) meluncurkan sebuah film dokumenter tentang kondisi hutan di Jawa. Konflik masyarakat pinggir hutan menjadi inti tema film ini.

"Film ini berkisah tentang kondisi riil masyarakat di pinggir alas yang selama ini jauh dari akses terhadap hutan," kata Erwin Dwi Kristanto, salah satu penonton film, dalam acara peluncuran film di Kedai Telapak Purwokerto, Sabtu 6 April 2013 malam.

Ia mengatakan, saat ini sedang dibahas RUU tentang Pemberantasan Pengrusakan Hutan (P2H) yang dikhawatirkan akan semakin mengasingkan masyarakat pinggir hutan dari hutannya. Menurut dia RUU tersebut harus ditolak.

Sutradara film itu, Bowo Leksono mengatakan, setelah membuat film itu, dirinya dan CLC akan membuat film dokumenter lagi soal kriminalisasi yang dilakukan negara terhadap penduduk sekitar hutan. "Kebetulan Banyumas dan sekitarnya sebagian besar berbatasan dengan hutan lereng Gunung Slamet," katanya.

Ia mengatakan, film berdurasi sekitar 29 menit itu mengambil latar di pinggir hutan Gronbogan, Blora dan Bojonegoro. Waktu pembuatan film memakan waktu selama enam bulan.

Siti Rakhma Mary, Koordinator Program Resolusi Konflik Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa) mengatakan, penguasaan hutan oleh Perhutani berakibat lebih-kurang 6.000 desa yang berbatasan atau berada di kawasan hutan mempunyai kualitas kesejahteraan penduduknya yang rendah. "Mereka tak memiliki akses memanfaatkan sumberdaya hutan secara leluasa," katanya.

Ia menyebutkan, pada abad XVI hingga XVIII, hutan alam di Jawa diperkirakan sekitar 9 juta hektare. Saat ini, jumlah ini menyusut hingga tinggal 0,97 juta hektare saja.

Khusus di Jawa Tengah, kata dia, kerusakan hutan menyebabkan lahan kritis seluas sekitar 800 ribu hektare. Ia menambahkan, pada tahun 2002 luas hutan di Pulau Jawa tinggal 3 juta hektare atau 23 persen dari luas Pulau Jawa. Dari luasan tersebut hanya 1.875.500 hektar yang masih memiliki tutupan baik.

Masih menurut Rahma, saat ini penguasa hutan Jawa adalah Perhutani. Perhutani memperoleh mandat dari negara untuk menguasai 2,4 juta hektar lahan kawasan hutan di seluruh Pulau Jawa. Dengan luasan itu berarti Perhutani menguasai 85 persen hutan di Jawa. "Penguasaan hutan ini membuat penduduk di sekitar hutan kesejahteraannya sangat rendah," katanya.

Sungging Septivianto, Anggota Dewan Kehutanan Masyarakat (DKN) Kamar Masyarakat Regio Jawa menambahkan, selama 1998-2011 terdapat 64 kasus penembakan dan penganiayaan kepada masyarakat yang tinggal disekitar hutan. Dari kasus itu, sebanyak 107 orang menjadi korban, dimana 73 cedera dan 34 orang tewas. "Aksi kekerasan yang melibatkan Perhutani menempati posisi teratas dalam tabulasi data konflik sektor kehutanan yang berada di Jawa," katanya.

Ia mengatakan, kemiskinan, kekerasan, ketertutupan akses, dan kerusakan hutan Jawa menjadi persoalan menahun yang tak terselesaikan. "Dengan film ini kami ingin mengabarkan kepada masyarakat bagaimana kondisi hutan di Jawa," kata dia.

ARIS ANDRIANTO

Topik Terhangat Tempo:
Penguasa Demokrat || Agus Martowardojo || Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo || Nasib Anas


10.20 | 0 komentar | Read More

Lawuh Boled, Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik

Senin, 08 April 2013 | 04:19 WIB

TEMPO.CO , Purbalingga-Panen prestasi film-film produksi terbaru pelajar Purbalingga tahun ini, diawali dengan kejayaan film "Lawuh Boled" produksi Pedati Film SMK Negeri 1 Rembang Purbalingga. Film yang disutradarai Misyatun itu diganjar sebagai Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik di ajang Malang Film Festival (Mafifest) 2013.

Penghargaan langsung diterima Misyatun yang berangkat dari Purbalingga bersama salah satu kru film dan guru pendamping pada malam penghargaan, Sabtu (6/4) di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

"Senang, bangga, campur-aduk. Bisa membawa nama baik sekolah dengan berprestasi di bidang film," ucap Misyatun usai penganugerahan dengan harapan komunitas filmnya bisa menjadi ekskul sinematografi di sekolahnya, Minggu (7/4).

Misyatun melanjutkan, tahun lalu, ia dan teman-temannya sempat memproduksi satu film fiksi pendek, namun belum berkesempatan meraih prestasi. "Semoga prestasi awal di Malang ini membuka kesempatan bagi sekolah untuk mengakui keberadaan komunitas film di sekolah kami," ujar siswi kelas XI ini.

Film "Lawuh Boled" berkisah seorang perempuan desa bernama Sutimah yang buta huruf. Ia merasa disepelekan oleh tingkah-laku ketua RT yang memanfaatkan kebutahurufannya. Sutimah tidak berhasil membawa beras jatah Raskin dari balai desa karena kupon yang dibawanya tertukar dengan kupon lain yang sama-sama berinisial S. Sementara di rumah, anak perempuan Sutimah hanya sarapan ubi sebelum berangkat sekolah.

Menurut salah satu dewan juri, Tomy Widiyatno Taslim, film berdurasi 9 menit ini berhasil menyampaikan kepekaan pembuatnya terhadap masalah kemiskinan/sosial dengan cara jenaka. "Keunggulan lain bahwa cerita cukup utuh, bahasa visual dan suara efektif dalam menguatkan penceritaan," ujar pegiat Festival Film Pelajar.

Manager Program Cinema Lovers Community (CLC) Nanki Nirmanto mengatakan, kerja keras para pelajar Purbalingga saat produksi film itu ibarat mereka berada di musim tanam. "Di ajang festival-festival film itulah saatnya mereka memanen. Siapa yang serius dan baik saat produksi, hasil panennya pun akan baik," katanya.

ARIS ANDRIANTO

Topik Terhangat Tempo:

Penguasa Demokrat || Agus Martowardojo || Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo || Nasib Anas


10.20 | 0 komentar | Read More

Finding Srimulat Tak Akan Selesai tanpa Jokowi  

Written By Unknown on Minggu, 07 April 2013 | 10.20

(dari kiri ke kanan) Empat bintang film Finding Srimulat Jujuk, Gogon, Reza Rahardian dan Rianti Cartwright menghadiri peluncuran buku"Finding Srimulat" di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu, (23/3). ANTARA/Muhammad Adimaja

Sabtu, 06 April 2013 | 16:15 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Sutradara film Finding Srimulat Charles Gozali rupanya punya kenangan mengenai mantan Wali Kota Solo Joko Widodo. Menurut dia, film yang digarapnya tak akan selesai jika tak ada pria yang sekarang menjabat Gubernur DKI Jakarta itu. "Saya benar-benar terima kasih sekali kepada Pak Jokowi dan jajarannya selama proses syuting film ini," ujarnya kepada Tempo, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Selain ikutnya Jokowi sebagai kameo dalam film itu, ada salah satu bantuan tak terlupakan ketika pelaksanaan syuting itu, yaitu ketika para kru film menjalankan syuting di Stasiun Balapan Solo. Syuting yang mencapai tiga hari itu benar-benar menggunakan banyak figuran untuk meramaikan pengambilan gambar. Maklum saja, gambar yang diambil saat adegan itu mirip dengan flash mob. Hampir semua orang di stasiun itu menari dan bernyanyi diiringi lagu Lenggang Puspita karya Guruh Soekarno Putra.

Charles bercerita pada hari pertama syuting di stasiun bersejarah itu hanya terdapat 100 figuran yang ikut dalam pembuatan film. Walaupun begitu, kesemrawutan para calon penumpang kereta api sudah mulai terlihat. Karena kesemrawutan itu, Kepala Pengawas Stasiun Balapan yang berlokasi di Yogyakarta sudah mewanti-wanti Charles dan kru agar tidak membuat kemacetan manusia pada syuting berikutnya.

"Enggak disangka, ternyata syuting hari kedua, figurannya bertambah jadi 200 orang," kata Charles yang mengaku bingung saat itu. Figuran-figuran yang hanya dibayar dengan makan dan minum saja itu membuat kemacetan manusia lebih banyak daripada di hari pertama.

Mendengar kesemrawutan manusia kembali terjadi pada hari kedua, kata Charles, kepala pengawas stasiun yang berada di Yogyakarta berniat secara langsung datang dari Yogya ke Solo untuk menghentikan jalannya syuting pada hari ketiga. Charles pun tambah panik, selain mendapat kabar akan diberhentikan syutingnya, figurannya yang ikut pun membeludak menjadi 500 orang pada hari ketiga di stasiun itu.

Saat itu dia berpikir syutingnya akan dibubarkan. Charles pun bertanya kepada salah satu rekannya. Bagaimana kelanjutan pemberhentian syuting mereka? "Kata teman saya 'coba tengok ke belakang'. Enggak jadi karena ada beliau," kata Carles. Ternyata, Jokowi saat itu sedang melihat aksi syuting dari layar yang biasa dilihat oleh sutradara.

Charles pun kembali kaget. Menurutnya, Jokowi datang tanpa ada kabar berita sebelumnya. Sebagai orang nomor satu di Kota Solo saat itu pun ia hanya datang dengan satu ajudan dan memang sengaja mau melihat kegiatan syuting para kru Finding Srimulat. "Dia benar-benar hanya pengen tahu gimana syuting kami. Lalu saya baru ngeh, karena ini kepala pengawas stasiun segan berhentiin kami," kata Charles, mengenang kejadian pada 2011 itu.

MITRA TARIGAN

Berita lainnya:
Investigasi TNI AD Dinilai Penuh Rekayasa
Profil Grup 2 Kopassus, Penyerang LP Cebongan
SBY Bilang Pelaku Penyerangan LP Cebongan Kesatria
Wiranto: Pengungkapan Kasus Cebongan Cukup 1 Hari


10.20 | 0 komentar | Read More

Dhani : Fatin Punya Bakat Nyanyi Blues

Membaca Seru Novel Terjemahan

Salah satu aktivitas yang enak dikerjakan di akhir pekan ialah membaca novel. Jenis fiksi panjang ini membawa saya menjelajahi banyak sekali hal: kultur, bahasa, watak, nuansa, hingga kehebatan plotnya. Dalam membaca itulah saya merasa memperoleh pengayaa


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger